<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5353099398808708399</id><updated>2011-07-08T03:07:34.185-07:00</updated><title type='text'>KUMPULAN KISAH</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://kumpkis.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5353099398808708399/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpkis.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>onyel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10894577879528821306</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/-OoMkJXiA8w4/TdkggQ5yQrI/AAAAAAAAAX4/Y8MHmB5sHMY/s1600/ca.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>13</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5353099398808708399.post-8425426448578212863</id><published>2011-05-06T23:05:00.000-07:00</published><updated>2011-05-06T23:08:11.188-07:00</updated><title type='text'>LAKI-LAKI IDAMAN AYAH</title><content type='html'>“Ada yang kosong mbak?”&lt;br /&gt;Seorang lelaki muda, berusia kurang lebih 27 tahun membuyarkan keasyikanku ber-chat ria dengan temanku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh maaf, penuh Mas, kalau mau silahkan tunggu.” Kataku tersenyum ramah setelah melihat program Billing di komputerku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh ya, saya tunggu aja…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah…seruku dalam hati, costumer setia. Sebenarnya ada warnet lain, tapi dia tetap setia bermain di warnetku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria itu bukan yang pertama ke sini, sudah berkali-kali. Awalnya, aku tak pernah memperhatikan dia, maklum pelangganku banyak, dan berganti-ganti, jadi aku tidak sempat memperhatikan mereka satu persatu. Jika misalnya memberi perhatian pun, biasanya sekarang memperhatikan, tapi tak lama kemudian atau besok sudah lupa.&lt;br /&gt;Berhubung dia berkali-kali ke sini, aku jadi sedikit memperhatikan. Entah dari mana aku menyimpulkan, tapi feelingku mengatakan dia alumni pondok pesantren. Ga tampan tapi berkharisma. Badannya tidak tegap atau atletis tapi pembawaannya tenang dan bersahaja. Bukan mataku jelalatan, tapi pastilah sengaja atau tidak aku memandangnya walau sekilas, dan dari caranya bicara yang sopan dan teratur. &lt;br /&gt;Aku melihat keluar, Seorang cewek tampak kesulitan mengeluarkan motornya dari parkir, soalnya di belakangnya ada motor terparkir dan dikunci stang. Dengan sigap aku membantunya mengeluarkan motornya. Dan selanjutnya aku menata jajaran motor-motor di parkir warnet. Ini bukan pekerjaan asing bagiku, ketika aku masih kuliah di Surabaya dulu aku sering membantu tukang parkir di warnet aku bekerja. Dan itu sekarang juga menjadi kerjaan rutinku selain sebagai operator warnet.&lt;br /&gt;Ketika akan kembali masuk warnet, aku menunduk menyapa pria tadi yang duduk di teras. Tiba-tiba pria itu mengeluarkan suara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang punya warnet ini rumahnya Samo ya?” tanyanya sambil menyebut nama desaku.&lt;br /&gt;“Benar mas”&lt;br /&gt;“Putranya pak Kat…Kateno ya?”&lt;br /&gt;“Pak Katemo mas,”&lt;br /&gt;“oh iya benar…”&lt;br /&gt;“anda kok tahu?”&lt;br /&gt;“ya kenal aja, teman seperjuangan. Mbak sendiri di sini pegawai atau….?”&lt;br /&gt;Aku tersenyum, &lt;br /&gt;“saya adiknya pemilik warnet.”&lt;br /&gt;“O, mbak putrinya Pak Katemo kalau begitu.”&lt;br /&gt;“Iya benar”&lt;br /&gt;“salam buat bapak, bilang dari Jaka Jatin.”&lt;br /&gt;“InsyaAllah saya sampaikan…”&lt;br /&gt;“oh ya, mbak namanya siapa?”&lt;br /&gt;“Saya eri…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah akhirnya kami kenalan, tanpa bersalaman tentunya. Tapi itu cukup membuatku Deg-deg ser…ups, astaghfirullah….&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Sampai di rumah, ketika ketemu bapak, langsung aku sampaikan salam cowok tadi, &lt;br /&gt;“Bapak, dapat salam dari Jaka, rumahnya Jatin.”&lt;br /&gt;“Lho kok kenal?”&lt;br /&gt;“dia pelanggan warnet yah.”&lt;br /&gt;“weleeeeeeeeh, mau dikenalin kok wes kenalan dulu…” kata bapak sambil setengah ketawa menggodaku. Aku langsung ngeh, maklum usiaku sudah 24 tahun lebih, dan itu masa-masa ideal menikah, toh pendidikan S-1 ku juga udah kelar.&lt;br /&gt;“Gimana menurutmu Er? Misalnya kamu aku jodohkan ma dia mau ga?”&lt;br /&gt;Aku tersipu&lt;br /&gt;“jangan tanya aku bapak, Tanya aja dia, mau ga ma aku….”&lt;br /&gt;“dia laki-laki pinter, pendidikan S1 PAI di STAIN, dulu pernah mondok di Arrisalah. Bagus agamanya, teman pengajian bapak itu. Kalo berbicara di depan forum bagus, walo anak muda tapi bisa meladeni orang-orang tua seperti bapak, bapak suka.”&lt;br /&gt;Hatiku semakin deg-degan…&lt;br /&gt;“bapak dah minta tolong pak Jaenuri untuk mencari informasi tentang dia, pak Jaenuri lumayan kenal baik ma Jaka.”&lt;br /&gt;Pak jaenuri adalah teman pengajian bapak juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kali pertemuan di warnet, aku dan pria itu kadang ngobrol, tidak sering dan tidak lama hanya jika kebetulan posisi kami dekat, seperti pas dia minta tolong karena komputernya agak eror atau ketika dia datang dan membayar. Bahan obrolan pun ga Cuma iseng, biasanya soal pekerjaan. Sebagai lulusan S1 yang belum bekerja, aku sempat pusing. Berkali-kali memasukkan surat lamaran pekerjaan ke sekolah-sekolah tapi belum ada tanggapan. Dia menyarankan aku untuk memasukkan lamaran ke sebuah SD swasta berbasik Islam di mana dia mengajar saat ini, yang letaknya agak jauh dari rumahku. Aku pikir, bolehlah aku coba, daripada nganggur, walau sebenarnya spesifikasi pendidikanku kurang relevan untuk tingkat SD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum sempat aku memasukkan lamaran ke tempat yang di maksud, sebuah telepon dari sebuah sekolah memberiku harapan. Sebuah SMK swasta, tak apalah. Walo ibu maunya aku ngajar di Sekolah negeri, ‘sukuan’lah istilahnya, karena prospeknya baik katanya. Aku mendatangi panggilan tes itu, dan akhirnya aku terima. Ketika pria itu datang kembali ke warnet, aku pun  cerita soal kabar itu.&lt;br /&gt;“alhamdulillah, bagus tuh mbak….” Katanya &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah... dia tetap bersikap sopan padaku, santun bahasanya, dan pandangannya lebih banyak menunduk.&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Beberapa hari kemudian ayah membawa kabar baru mengenai Jaka. &lt;br /&gt;“Dia katanya anak pertama, adik-adiknya masih kecil.”&lt;br /&gt;“terus bapak?”&lt;br /&gt;“yaaaaaah, tau sendiri….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, aku tau sendiri bagaimana kondisi lingkunganku yang masih kolot. Masih percaya pada mitos-mitos yang ga syar’i. Mereka percaya mitos ‘lusan’, telu pisan, suatu mitos jawa di mana anak pertama atau anak yang menikah pertama dalam suatu keluarga tidak boleh menikah dengan anak ketiga atau anak yang menikah ketiga. Jika itu dilanggar katanya salah satu akan kalah, kalah dalam artian mendapat musibah, entah kecelakaan atau meninggal. Karena itu mereka menentang keras kalau ada pernikahan lusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aku adalah anak ketiga dan menikah yang ketiga, kedua kakakku sudah menikah. Bukannya aku dan bapak percaya, tapi kami hanyalah bagian lingkungan yang sangat kecil, kami masih lemah untuk menentang tradisi-tradisi yang menyimpang dari syariat, walau bukan berarti kami ikut mempercayai. Terlihat raut kecewa di mata ayah, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap pria itu kurasakan menjadi berubah padaku. Dulu dia kalau melihatku pasti menyapaku, walau saat itu aku bahkan tidak melihatnya, tapi kini dia pura-pura tidak melihatku ketika bertemu denganku, kecuali jika kita berhadapan atau aku menyapanya terlebih dahulu. Jika aku sedang jaga warnet, pas bayar biasanya dia sambil berkata sesuatu, namun kini dia hanya menyodorkan uang dan berlalu dengan ucapan terima kasih. Jika kondisi warnet penuh, dia pilih pergi dulu daripada ngantri. Aku merasa aneh, kenapa sikapnya berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari iseng di waktu senggang aku dan bapak ngobrol.&lt;br /&gt;“kalo bapak pikir-pikir, kenapa kita harus takut pada mitos masyarakat tentang lusan, toh dalam Qur’an gak ada. Bapak suka dia, kamu juga kelihatannya juga mau dengan dia. Bapak terjang aja ya mitos itu, bapak akan minta pak Jaenuri untuk menyampaikan maksud bapak ke Jaka, gimana?” kata bapak&lt;br /&gt;Aku tersipu. Sebenarnya aku berharap pria itu yang datang pada bapak untuk memintaku. Tapi bukankah untuk niat ibadah, cewek dulu yang maju ga masalah. Namun kemudian aku ingat sikapnya selama ini, aku kembali ragu.&lt;br /&gt;“tapi bapak, sikapnya selama ini berubah pak ma aku.” aku ceritakan semua perubahan sikap yang aku rasakan dari diri Jaka padaku. Ternyata ayah juga merasakan hal yang sama. &lt;br /&gt;“Iya, sama bapak juga gitu. Dulu di saat-saat senggang kajian, kita kadang ngobrol, tapi sekarang dia lebih banyak diam. Kita ngobrol kalau ada urusan penting aja.”&lt;br /&gt;Aku tersenyum&lt;br /&gt;“jangan-jangan keluarganya juga terbelit tradisi seperti kita, Ri?”&lt;br /&gt;“mungkin Bapak.”&lt;br /&gt;Bapak tersenyum padaku.&lt;br /&gt;“Sabar ya nduk, bersabar untuk mendapat yang terbaik.”&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Beberapa bulan kemudian bapak membawa kabar baru&lt;br /&gt;“Ri, Jaka akan menikah.”&lt;br /&gt;“Oh ya?” aku jadi teringat dengan sosok itu. Yah, aku hampir tidak pernah bertemu lagi dengan pria itu, maklum jadwal ngajarku yang mayan padat membuatku tidak sempat lagi jaga warnet, dan kakakku akhirnya menambah pegawai lagi. Tapi kadang aku masih jaga warnet jika ada operator yang tidak masuk, itupun tidak lama dan tidak setiap minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“insyaAllah bulan depan.” Lanjut bapak.&lt;br /&gt;“oh…”&lt;br /&gt;Bapak tersenyum lagi&lt;br /&gt;“kabarnya calon istrinya seorang asisten dosen yang sedang menyelesaikan S-2nya di Kediri.”&lt;br /&gt;S-2? Walah aku kalah jauh…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ketika hari pernikahan itu semakin dekat, bapak berkali-kali hanya tersenyum padaku ketika beradu pandang. Dari tatapan beliau, aku menangkap isyarat sebuah dukungan aku untuk bersabar dan untuk ikhlas…&lt;br /&gt;Aku tidak dapat undangan walimatul’urs dari Jaka, hanya bapak. Sepulang dari acara pernikahan itu, kudapati cerita baru ayah yang cukup membuatku agak shock, bingung dan berbagai pikiran berkecamuk dalam otak,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tadi di pernikahannya Jaka ada laki-laki mirip dengan Jaka, membawa istri dan anak. Ketika pak Jaenuri bapak tanya, katanya itu kakak kandung Jaka…jadi artinya, Jaka bukan anak pertama.”&lt;br /&gt;“Jadi berarti pak jaenuri bohong pada kita pak?”&lt;br /&gt;“Sepertinya seperti itu…”&lt;br /&gt;“apa maksudnya memberi kabar bohong seperti ini&lt;br /&gt;“Bapak sendiri kurang tau, atau mungkin….”&lt;br /&gt; Bapak sengaja tidak meneruskan ucapannya, tapi aku langsung tanggap…&lt;br /&gt;“mungkin diam-diam pak Jaenuri sudah menyampaikan niat bapak ke Jaka, dan saat itu Jaka mungkin ternyata sudah mempunyai wanita idaman atau dekat dengan wanita lain. Dan akhirnya mereka sepakat berbohong untuk menolak niat bapak dengan dalih anak pertama biar terkesan LUSAN dan melanggar mitos?”&lt;br /&gt;“bapak gak tau.” Kata bapak pelan, “sudah berfikir positif aja Ri, insyaAllah kamu akan mendapat laki-laki yang lebih baik”&lt;br /&gt;“amin…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini rencana Jaka kah? Tapi untuk apa dia harus berbohong, apalagi dengan cara memanfaatkan sesuatu yang ga syar’I, memanfaat mitos masyarakat. Bukankah lebih baik kalau dia jujur? Dan bukankah dia harusnya lebih tau bagaimana menolak niat bapak dengan baik. Tidak dengan cara ini. Bukankah memanfaatkan mitos itu berarti dia percaya dan mendorong orang lain untuk percaya dengan mitos itu dan tentu saja itu bertentangan dengan syari’at. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah setidaknya itu membuat kekagumanku akan sosok Jaka menjadi berkurang, bahkan hilang. Yah, thanks Allah, Engkau telah menunjukkan bahwa dia memang bukan terbaik untukku. Dan aku percaya Engkau akan memberiku laki-laki terbaik dalam hidupku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---000---&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5353099398808708399-8425426448578212863?l=kumpkis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpkis.blogspot.com/feeds/8425426448578212863/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpkis.blogspot.com/2011/05/laki-laki-idaman-ayah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5353099398808708399/posts/default/8425426448578212863'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5353099398808708399/posts/default/8425426448578212863'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpkis.blogspot.com/2011/05/laki-laki-idaman-ayah.html' title='LAKI-LAKI IDAMAN AYAH'/><author><name>onyel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10894577879528821306</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/-OoMkJXiA8w4/TdkggQ5yQrI/AAAAAAAAAX4/Y8MHmB5sHMY/s1600/ca.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5353099398808708399.post-5205722420753978659</id><published>2010-06-21T05:18:00.000-07:00</published><updated>2010-06-21T05:24:23.632-07:00</updated><title type='text'>ARDIKA</title><content type='html'>Akhirnya aku selesai memindahkan barang-barangku ke kosan baruku. Dan mulai malam ini aku mulai meniduri kasur di kamar baruku. Kamar berukuran 3m x 4m diisi 2 orang. Ayu, teman sekamarku, sudah lama aku kenal karena dia teman satu kelasku. &lt;br /&gt;Aku keluar kamar, bergabung dengan teman-teman kosku yang baru di depan TV. Perkenalan dan obrolan ringan sambil nonton TV terjadi, kebanyakan mereka bertanya tentang aku, maklum anak kos baru. Ada seorang cewek yang secara postur tidak terlalu berbeda denganku, agak pendek dan agak kurus, namun raut mukanya tampak lebih tua, dan kelihatan kurang ramah. Entah karena model wajahnya begitu ato karakternya yang sinis, membuat Aku berfikir berulang kali untuk bertanya dia angkatan berapa, umur berapa, rumahnya mana..  ato apalah.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hingga suatu ketika, hanya aku dan dia yang berada di depan tv. Semua sudah beranjak tidur karena sudah jam 9 malam lebih.&lt;br /&gt;“Kamu jurusan apa?”&lt;br /&gt;“Matematika.”&lt;br /&gt;“angkatan berapa?”&lt;br /&gt;“2004.”&lt;br /&gt;“sama donk ma ayu.”&lt;br /&gt;“ya kebetulan kami satu kelas.” Jujur aku lupa namanya.&lt;br /&gt;“kamu kok mau si kos di sini?”&lt;br /&gt;“emang napa?”&lt;br /&gt;“Kos sini image nya jelek lo di mata tetangga.”&lt;br /&gt;“kok bisa?”&lt;br /&gt;“Kamu tadi di depan ga liat banyak pasangan ngobrol di depan?”&lt;br /&gt;“ya beberapa.”&lt;br /&gt;“kos sini dikenal kosnya cewek ga bener ya semacam pel*c** lah, tiap malam pasti di depan banyak cowok apel, jadi beberapa pasangan pasti berjejer di depan. Itu lisa, anak D3 Akuntansi punya cowok lebih dari 2, hampir tiap malam diapeli cowok yang berbeda, aku bahkan pernah memergoki dia sedang berciuman dengan salah seorang cowoknya. Terus Mbak ita, selalu pulang malam, ga tau kerjanya apa, …”&lt;br /&gt;Bla bla bla… dia menceritakan beberapa tingkah anak kosku yang baru ini. Glek, keder juga aku. Pikiran yang gak gak membawaku ke tempat tidur, membuatku agak gelisah.&lt;br /&gt;Nama Lisa yang kemudian aku tau adalah anak semester 6, dan kenyataan yang ada dia memang berpacar dua. Kemudian mbak ita, wanita pekerja, entah aku belum jelas kerjanya apa, memang dia pergi kerja sore dan pulang entah jam berapa, setauku ketika pagi aku sudah mendapatinya tertidur di dalam kamarnya dengan baju tidurnya yang serba minim, ah biasa, Surabaya kan panas, toh sini juga kos khusus cewek, jadi pemandangan seperti itu sudah biasa. &lt;br /&gt;Jujur aku memilih kos ini karena harga sewanya yang lumayan miring walo ga miring-miring banget, jalan masuk kos yang berbeda dengan rumah bu kos jadi untuk keluar masuk ga perlu melewati rumah bu kos, dan yang jelas bahwa setiap anak kos diberi kunci pagar dan kunci pintu sendiri-sendiri, jadi aktivitas kampus, kasih les privat dan organisasiku yang tak mengenal waktu tidak terkendala pada ‘batas jam malam’ seperti kosku yang lama. Ga masalah agak jauh tapi nyaman beraktivitas, itu yang aku fikirkan. Soal image seperti ini aku ga tau sama sekali, dan aku takut image ku pun jadi jelek. Semoga itu tidak benar.&lt;br /&gt;Tapi bukan aku kalau percaya begitu saja pada hal yang belum aku saksikan sendiri buktinya dan aku bukanlah orang rumahan yang hanya bergaul dengan orang yang seatap saja. Kebiasaan memasak sendiri yang aku lakukan aku manfaatkan. Jika aku masak berarti aku harus belanja sayur, dan biasanya belanja pada tukang sayur keliling langganan warga kompleks. Dari situ otomatis aku akan ketemu beberapa tetangga yang sama-sama belanja sayur, dan alhamdulillah apa yang aku takutkan tidak benar. Mereka semua ramah ketika ngobrol denganku, mereka banyak bertanya tentang alamatku dan statusku di sini. Justru dari sini akhirnya aku tau pandangan sebenarnya masyarakat terhadap anak kos.&lt;br /&gt;Sebenarnya masyarakat sangat welcome dengan kedatangan anak kos sebagai warga baru di lingkungan, bukan hanya anak sekosku, tapi anak kos secara umum. Namun kebanyakan anak kos tidak peduli pada tetangga padahal kondisi lingkungan sini masih seperti kampung, ikatan kekeluargaan antar warganya masih erat. Posisi anak kos yang sebagai ‘tamu’ di lingkungan ini harusnya menjaga sikapnya, termasuk soal ketika menerima tamu dan kebiasaan pulang malam mereka. Ya sepantasnya lah.&lt;br /&gt;Alhamdulillah semua aku syukuri, dan tanpa aku jelaskan detail hanya dari obrolan-obrolan dengan tetangga itulah, mereka memaklumi aktivitasku yang mengakibatkan aku sering pulang larut malam bahkan dini hari. Mungkin mereka percaya dengan segala ucapanku karena aku selama ini berusaha untuk konsisten berkerudung dan bersikap sopan kepada mereka. &lt;br /&gt;Kembali ke gadis berwajah tak ramah itu. Dua hari aku tak melihat sosoknya. Kudengar dia sedang mudik ke kampung halamannya sebuah kota yang berbatasan dengan Bali. Ketika ngobrol dengan teman-teman, tanpa sengaja kami mengobrolkannya. Aku yang memang belum tau banyak tentang dia dan tak berani bertanya langsung ma dia menjadi paling banyak bertanya. Namanya Ardika, anak semester 2 ternyata, sama ma aku, bedanya dia mengambil D2 aja. Banyak yang ga suka padanya karena memang dia selalu berprasangka buruk dan suka menjelek-jelekkan temannya. Dia juga suka bermuka manis di depan anak kos senior yang sudah bekerja, namun kalo di belakangnya sering mengatakan hal yang ga baik dan cenderung memfitnah. Sederhana saja, kalo di depan Mbak Lisa, dia dengan manisnya memanggil mbak, tapi kalo di belakangnya embel-embel mbak itu hilang bahkan cerita jelek-jelek tentang yang namanya lisa yang muncul. Na’udzubillah….&lt;br /&gt;Senin pagi kudapati dia datang membawa ransel seolah dari luar kota. Dan fikiran positifku bilang, dia baru balik dari kampung halaman, soalnya aku juga begitu kalo balik dari mudik. Malam selanjutnya, ba’da isya’ dia tampak nenteng tas ranselnya yang kecil.&lt;br /&gt;“Nanti kalau ada telpon nyari aku, bilang aku ngerjakan tugas kelompok di rumah temen, soalnya besok kudu jadi, jadi lembur…”&lt;br /&gt;Semua hanya tersenyum. Tak ada ucapan terima kasih setelah menyampaikan pesannya, seolah dia berpesan kepada pembantunya. Teman-teman hanya mengangkat alis dan kembali mengalihkan pandangan ke tv. Kulihat lampu kamarnya mati, kemudian aku tau kebiasaanya kalau dia bepergian dan teman sekamarnya yang bekerja tidak ada (dan memang jarang ada di kos), maka lampu kamarnya pasti dimatikan. &lt;br /&gt;Dan suatu malam jam 8 dia keluar dijemput temannya. Dia tidak berpesan apa-apa. Jam 10 an ada telpon dari seorang wanita. Aku yang mengangkat, karena kulihat kondisi kamarnya gelap aku bilang dia tidak di kos, keluar mengerjakan tugas mungkin bu, kataku. Dan paginya aku dapati kamarnya sudah terang, entah jam berapa dia pulang. &lt;br /&gt;Beberapa kali kudapati seperti itu, dan akhirnya 2 hari tak kudapati dia lagi, mungkin dia mudik lagi. Telepon kembali berdering, ayu yang mengangkat. Wanita lagi mencari nama dika, ternyata itu ibunya. &lt;br /&gt;Ayu kelihatan pucat, rupanya wanita itu marah-marah. Dia bilang ayu berbohong kalau dika ga da di kos. Dia maksa suruh ayu memanggil Ardika di dalam kamarnya yang gelap gulita. Tak ada sahutan, ganti aku yang memanggil ga da sahutan, aku juga tidak enak dengan tetangga malam-malam teriak-teriak. &lt;br /&gt;Gemetar aku bilang ibu telepon aja hpnya. Si Ibu menjawab dengan nada keras kalau dika selalu mematikan ponselnya ketika tidur. Lalu si Ibu menutup teleponnya tanpa pamit. Tidak sopan!&lt;br /&gt;Ketika ketemu dika aku menceritakan kejadian tadi, dika dengan entengnya bilang nginep di rumah temen. Tidak ada kata maaf karena perbuatannya ibunya bersikap seperti itu. Keterlaluan! Aku lihat perubahan pada fisik Ardika, dalam fikiranku muncul fikiran negatif, jangan-jangan Ardika hamil, dia kan belum menikah? Bibirku aku kunci rapat-rapat, takut itu hanya prasangka yang bisa menimbulkan fitnah. Hingga suatu hari ayu sepertinya tak kuasa membendung rasa penasarannya. Astaghfirullah, ternyata semua berfikiran sama denganku, dan kami sepakat menjadikan ini rahasia kami, jangan sampai bocor sampai luar kos, toh itu urusan dika. &lt;br /&gt;Dika tidak banyak beraktivitas di luar rumah lagi, dia lebih banyak di kos. Kami teman sekosnya tak berani bertanya macam-macam, hanya saling pandang ketika melihat kebiasaan baru Ardika yang selalu pakai jaket dan memakai selimut padahal cuaca Surabaya sangat panas. &lt;br /&gt;Hingga suatu saat tanpa sadar ketika Ardika terpaksa tidur di kamarku karena teman sekamarnya datang bersama saudaranya yang numpang tidur untuk semalam. Ketika terlelap kulihat selimut Ardika tersingkap, dan kudapati perut Ardika yang buncit. Astaghfirullah, seperti orang hamil 8-9 bulan…apakah…..?&lt;br /&gt;Besoknya datang wanita separuh baya dengan wajah yang tak ramah juga, namun terlihat kegalauan di hatinya. Dan wanita itu ternyata ibuya Ardika. Dia berbincang-bincang dengan ibu kos, entah apa yang diperbincangkan.  &lt;br /&gt;Seminggu kemudian Ardika pamitan pulang ke rumah untuk waktu yang lama dengan alasan magang, jadi sementara ga kos di situ. Dan hampir dua bulan kemudian dia kembali dengan sifatnya seperti sedia kala, dan beraktivitas kuliah seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Ada yang beda dari fisiknya, perutnya sudah mengempis. Entah kemana isi perutnya dulu, sebuah penyakitkah ato sesosok makhluk??? Kami semua tidak tahu kebenarannya pastinya dan kami tidak ada yang berani menanyakannya. Biarkan Ardika dengan segala problemanya, kami tidak punya hak untuk mencampurinya toh sepertinya dia juga tidak butuh orang lain. Namun do’a kami, semoga Ardika dibukakan matanya untuk menghilangkan sifat buruknya dan semoga Allah memberinya yang terbaik.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5353099398808708399-5205722420753978659?l=kumpkis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpkis.blogspot.com/feeds/5205722420753978659/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpkis.blogspot.com/2010/06/ardika.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5353099398808708399/posts/default/5205722420753978659'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5353099398808708399/posts/default/5205722420753978659'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpkis.blogspot.com/2010/06/ardika.html' title='ARDIKA'/><author><name>onyel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10894577879528821306</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/-OoMkJXiA8w4/TdkggQ5yQrI/AAAAAAAAAX4/Y8MHmB5sHMY/s1600/ca.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5353099398808708399.post-2249072710875806546</id><published>2010-06-21T05:12:00.000-07:00</published><updated>2010-06-21T05:16:47.150-07:00</updated><title type='text'>SIAPAKAH DIA YA ALLAH</title><content type='html'>Seiring berjalannya waktu, Nuri menjadi menyadari, bahwa ia bukan remaja lagi. Pendidikan S1 selama 4 tahun, sudah dilalui, usianya tinggal menunggu hari menuju 25 tahun. waktu yang ideal untuk menikah, tapi dengan siapa? Sementara teman-teman seumurannya satu persatu sudah memberi kabar membahagiakan itu. Namun, Sampai saat ini belum ada yang nyantol maupun kecantol ma dirinya, hhehehe emang gantungan baju, kok nyantol????&lt;br /&gt;Problem hati masalah laki-laki bukan tak pernah Nuri rasakan. Entah berkali-kali laki-laki singgah di hatinya, (perhatikan ‘di hatinya’, bukan pelukannya). Kalau didaftar ada sekitar 3 nama pernah singgah di hatinya. Dan semua nama itu singgah bukan karena kemenarikan fisik, kegombalan rayuan, manisnya senyuman, ataupun sorot mata yang mempesona. Ketiga nama itu hadir karena kesahajaannya, kesantunan dalam berucap, kearifannya dalam menghadapi masalah, mata yang selalu menunduk jika berhadapan dan bibir yang Nuri perhatikan tak henti-hentinya menyebut asma Allah. &lt;br /&gt;Pertama, Iman, laki-laki kakak kelas, satu kota satu organisasi dengannya. Aktif di organisasi agama, cukup memberi nilai plus baginya dalam hal agama dan kesholehan. Dialah yang selalu memberinya spirit ketika dia hampir putus asa dalam menjalani masa skripsinya yang tak kunjung selesai, padahal teman-temannya telah mendapat izin untuk menjalani sidang. Nuri pun menjadi simpatik dan berniat unrtuk membaktikan hidupnya kepada laki-laki itu jika laki-laki itu memintanya. Namun ternyata Allah berkehendak lain, perasaannya bertepuk sebelah tangan. Ketika ia akhirnya berhasil menjalani sidang skripsi dan hendak menyampaikan kabar gembira itu, hadir sebuah undangan biru dari Iman. &lt;div class="fullpost"&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Iman berlalu dan ia menjalani kehidupannya setelah lulus kuliah dengan masih nganggur sambil membantu orang tuanya menjaga rumah makan berhotspot. Costumer Nuri banyak santri pondok pesantren, dan diam-diam Nuri mengamati aktivitas mereka. Hingga akhirnya ia mendapati customernya seorang ustadz muda yang santun, kelihatan sekali dari wajahnya yang bersinar dia selalu menjaga wudlu, ah hampir semua santri pesantren seperti itu, tapi ada yang istimewa dari wajahnya, entah apa, Nuri sendiri gak tau apa. Dia seorang ‘ustadz’, Nuri bisa bilang bergitu karena hampir setiap santri yang bertemu dengannya memanggil ‘ustadz’, umumnya kalau seumuran mereka panggilnya ‘akhi’ atau bahasa anak muda ‘bro’. Dia selalu tersenyum pada Nuri setiap kali mata tak sengaja bertatapan, namun dia segera menundukkan tatapan membuat Nuri tersipu malu. Dia melakukan itu tidak pada Nuri saja, namun pada semua orang sebagai bentuk keramahannya. Hingga suatu hari ketika dia selesai membayar, namun dia tidak langsung beranjak pergi, masih menunggu temannya yang masih asyik berkutat dengan laptopnya. Nui memberinya tempat duduk dan laki-laki itu hanya mengangguk sopan sambil mengucapkan terima kasih.&lt;br /&gt;“Anda asli mana?” entah ada keberanian dari mana Nuri bertanya.&lt;br /&gt;“Saya asli Riau.”&lt;br /&gt;“Sudah lama tinggal di Kota ini?”&lt;br /&gt;“Alhamdulillah sudah 8 tahun lebih. Sekarang saya tinggal dengan istri saya di dekat pondok.” Katanya ringan.&lt;br /&gt;Istri? Jadi pria muda itu sudah beristri. Ada sedikit kecewa di hatinya, namun kemudian dia tersenyum. Ah konyol sekali perasaannya itu, kenal juga belum dah menaruh simpati. Untung dia segera tahu kalau pria itu sudah beristri, kalo ketahuannya perasaannya sudah terlanjur dalam? Berabe punya nieh.&lt;br /&gt;Ustadz muda itu berlalu, namun kejadian serupa terjadi lagi ketika Nuri bertemu senior kuliahnya dalam facebook. Karena sama-sama sering online, mereka jadi sering ngobrol. Jujur dari dulu ia mengagumi pria itu, sekedar kagum tidak lebih. Namun seiring berjalannya waktu, karena besarnya volume obrolan, maka kekaguman itu terasa lebih spesifik lagi. Ketika dia ultah, Nuri pun mengucapkan selamat ultah padanya.&lt;br /&gt;“Happy Milad Akh…. 25 years old yeah?”&lt;br /&gt;“Syukron ukh…”&lt;br /&gt;“Eh akh, saya inget, antum kenal ustadz Abdullah? Usia 25 tahun dah nikah, padahal saat itu beliau secara financial masih belum siap. Bondo nekatlah kata orang. Antum tidak ingin mengikuti jejaknya?”&lt;br /&gt;“Owh iya tah, ana malah belum tau. Lho anti juga belum tau tah, ana juga dah menikah 6 bulan yang lalu. Sekarang istri ana sedang hamil 5 bulan.”&lt;br /&gt;Dag. Sudah menikah? Ah, Nuri kecewa lagee………..&lt;br /&gt;Tiga kali sudah cinta tidak berpihak padanya. Hingga akhirnya suatu ketika, dia sedang berkumpul dengan komunitas dunia maya regional. Dalam acara itu, Antar anggota saling memperkenalkan diri, karena selama ini mereka hanya saling bersilaturahim lewat dunia maya dan jarang sekali mereka ada kesempatan ngumpul di darat. Jadi sering kali mereka kenal dan akrab di dunia maya, tapi mereka tidak saling kenal di dunia nyata. &lt;br /&gt;Dalam acara itu Ada seorang pemuda yang biasa, ah sama sekali tidak berkesan di hati Nuri, yaiyalah kan baru pertama kali bertemu, mana dari awal acara sampai akhir acara ga da obrolan sama sekali di antara mereka. Namanya Dana. Dan kisah berawal dari situ. &lt;br /&gt;Ternyata pemuda itu sudah menjadi temannya di facebook. Dan untuk pertama kalinya dia menyapa.&lt;br /&gt;“Assalamu’alaikum ya Ukhti.”&lt;br /&gt;“Wa’alaikumussalam.”&lt;br /&gt;“Kaifa Khaluki?”&lt;br /&gt;“Bikhair, alhamdulillah. Wa antum?”&lt;br /&gt;“Alhamdulillah sama. Sedang sibuk apa?”&lt;br /&gt;“Biasa Online ajah, sambil browsing-browsing.”&lt;br /&gt;“Anti kerja pa skul or kul?”&lt;br /&gt;“Sudah kerja, anda?” &lt;br /&gt;Rasanya belum pantas kalau Nuri menggunakan bahasa al-Qur’an itu dalam bercakap-cakap.&lt;br /&gt;“Saya juga sudah kerja.”&lt;br /&gt;Kami ngobrol, saling memperkenalkan identitas diri. Kebanyakan pria muda itu yang bertanya, dan Nuri hanya menjawab dan bertanya balik sebagaimana dirinya.&lt;br /&gt;Kemudian terkisahkan, dia bekerja sebagai supervisor di sebuah perusahaan. Dia hanya pendidikan SMA, karena dulu tak ada biaya dan dia harus menghidupi ibunya yang menjanda. Dia tidak pernah menyantri di pondok pesantren namun dari kecil dia sudah tertarik untuk mendalami Islam. Ia memperdalam Islam secara autodidak, dari internet, buku, media massa ataupun pengajian-pengajian. Harus Nuri akui, pengetahuannya masalah agama sangat bagus. Kalau orang melihatnya, pasti mengira dia alumni pondok pesantren, mungkin ada yang mengira dia alumni ponpes sekaliber Gontor. &lt;br /&gt;Beberapa kali mereka chat, dia asyik di ajak share, soal agama maupun segala sesuatu yang sedang booming sekarang. Pengetahuannya cukup luas, Nuri saja yang berpendidikan S-1 kalah. Tidak hanya chat, Pria itu kadang main ke tempat kerja Nuri. Hingga suatu hari, &lt;br /&gt;“Pria seperti apa yang anti dambakan sebagai pendamping?”&lt;br /&gt;“InsyaAllah yang sholeh, baik akidahnya, santun sikapnya.”&lt;br /&gt;“Ehem…”&lt;br /&gt;“Hampir semua muslimah selalu mendambakan hal itu kan? Jadi saya rasa itu tidak berlebihan.”&lt;br /&gt;“Jika ada pria yang mengkhitbah anti, bagaimana sikap anti?”&lt;br /&gt;“InsyaAllah kalo dia baik di mata Allah maka dia pasti baik di mata saya, dan tak ada alasan saya tidak menerimanya. Dan saya hidup di dunia karena ada nya orang tua, ridlallahu firidlo walidayni.”&lt;br /&gt;“Na’am. Terus bagaimana criteria calon mantu orang tua anti?”&lt;br /&gt;“Orang tua saya menyukai laki-laki yang selain baik secara agama, tapi juga baik secara pendidikan.”&lt;br /&gt;“Maksudnya?”&lt;br /&gt;“Yah, secara umum orang tua, ketika melihat putrinya selesai pendidikan sarjana tentu dia mendambakan laki-laki yang bersanding dengan putrinya memiliki pendidikan yang minimal sama dengan putrinya. Tapi orang tua saya lebih demokratis, pemikiran lebih terbuka, jadi kalo keadaan tidak sesuai harapan bukan berarti tertutup kemungkinan, hanya perlu penjelasan, pengertian dan pembuktian.”&lt;br /&gt;Entah kenapa Nuri ingin jujur. Bukan maksud Nuri menjatuhkan Dana, tapi sebenarnya dia menambahkan bahwa ‘orang tuanya demokratis, pemikiran lebih terbuka’ adalah kalau Dana kalau memang serius berminat atas diri Nuri, dia bisa membuktikan bahwa dengan pendidikannya yang sebatas SMA dia bisa mempunyai pengetahuan sama atau lebih dari pria yang berpendidikan lebih tinggi, bahwa dia bisa sama atau bahkan lebih baik dari orang-orang yang berpendidikan tinggi.” &lt;br /&gt;Jujur, hati Nuri sebenarnya sudah welcome kepada pria itu dan dia berharap kalau laki-laki itu mempunyai perasaan yang sama dengannya, dia bisa memperjuangkan dirinya. Tapi harapan tinggal harapan. Entah apakah ini ada hubungannya dengan kata-kata Nuri atau ada alasan yang lain, pria itu menjauh. Jangankan mengunjunginya, menyapa di facebook pun tidak pernah. Nuri tak berani berbuat apa-apa, dia kembali kecewa. Cukuplah ini pembuktian bahwa laki-laki itu tak berniat kuat untuk memperjuangkan dirinya yang berarti dia bukan yang terbaik baginya. &lt;br /&gt;Nuri kembali sendiri, entah bayangan jodoh itu tampak masih jauh darinya. Entah kapan dia akan datang, huallahua’lam. Tapi Nuri tak bisa mengingkari, hatinya masih berharap dan penasaran siapakah pendamping hidupnya, orang jauh kah atau orang dekat, masih lama kah atau tiba-tiba yang terduga, Siapakah dia ya Allah?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5353099398808708399-2249072710875806546?l=kumpkis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpkis.blogspot.com/feeds/2249072710875806546/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpkis.blogspot.com/2010/06/siapakah-dia-ya-allah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5353099398808708399/posts/default/2249072710875806546'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5353099398808708399/posts/default/2249072710875806546'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpkis.blogspot.com/2010/06/siapakah-dia-ya-allah.html' title='SIAPAKAH DIA YA ALLAH'/><author><name>onyel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10894577879528821306</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/-OoMkJXiA8w4/TdkggQ5yQrI/AAAAAAAAAX4/Y8MHmB5sHMY/s1600/ca.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5353099398808708399.post-1759883679841026604</id><published>2009-11-03T06:25:00.000-08:00</published><updated>2010-02-09T02:23:46.990-08:00</updated><title type='text'>AKHIRNYA AKU MENIKAH DENGAN LAKI-LAKI PILIHAN ORTUKU</title><content type='html'>+ “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Assalamu’alaikum ya ukhti&lt;/span&gt;…..” Sapa sebuah ID di YM ku.&lt;br /&gt;- “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Wa’alaikumussalam ya akhi&lt;/span&gt;.”&lt;br /&gt;+ “Lagi ngapa ukh?”&lt;br /&gt;- “Nyantai saja nieh, kalo tidak santai mana mungkin OL&lt;br /&gt;+ ‘Hehe, na’am.”  &lt;br /&gt;- Sedang sibuk apa sekarang akh?&lt;br /&gt;+ “Ini sedang sibuk mengerjakan thesis. Mohon doanya ukh ana bisa segera menyelesaikannya, agar saya bisa segera datang menemui ortu ukhti untuk meminang ukhti.”&lt;br /&gt;- “Amin akh, selalu.” &lt;br /&gt;Wajahku merah marun, malu bercampur bahagia mendapat pesan dari laki-laki yang hampir satu tahun ini senantiasa menemaniku mengobrol di YM di waktu-waktu kosongnya itu. Laki-laki idaman muslimah. Ainur, Laki-laki yang ah, begitu aku kagumi dan aku dambakan sebagai pendamping hidupku. Pemuda Indonesia yang sedang menimba ilmu di Sebuah Universitas di Mesir.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kami mengobrol banyak, mengenai tradisi dua Negara, Indonesia dan Mesir di mana dia sekarang sedang menimba ilmu lalu mengenai agama dan lain-lain. Kami sebenarnya tidak selalu sependapat dalam menilai setiap masalah. Kadang aku merasa kurang suka dengan cara pandangnya. Namun aku pikir manusiawi sekali pikirannya dan no body perfect. Kami saling mengisi dan berbagi. &lt;br /&gt;Kami hampir tidak pernah bertemu karena sekarang untuk bertemu tentu tak mungkin. Aku di Indonesia dan dia di sebuah Negara yang nun jauh di sana. Kami berkomunikasi via internet, Yahoo Messenger (YM) friendster maupun facebook, atau telpon. Dalam berkomunikasi via YM  kami kadang pakai voice dan webcam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahsan, laki-laki itu sering main ke rumahku. Dan seperti biasa, ayah dan ibu yang menghadapi. Alasan dia main ke rumahku pun katanya bukan mencariku, tapi sowan ke ayah dan ibu. Namun aku tau, tujuan utamanya adalah aku. Dulu kami pernah dekat, namun aku merasakan ada ketidakcocokan dengannya, sehingga aku menjauh. Namun dia tetap mengejarku dengan mendekati ortuku. Kedua ortuku senang sekali padanya, berkali-kali memujinya dan terang-terangan mengatakan padaku bahwa dia ingin laki-laki itu menjadi menantunya. Dan satu-satunya putri orang tuaku yang belum menikah adalah aku, sehingga itu berarti orang tuaku menginginkan aku menikah dengannya.&lt;br /&gt;Ahsan Seorang mahasiswa S2 yang sedang mengerjakan Thesis, yang juga baru-baru ini diangkat menjadi dosen di sebuah Universitas Negeri di Jawa Timur. Bapak laki-laki itu ternyata sahabat lama ayahku juga. Dan kedua keluarga kami ternyata sudah saling mengenal. Usia laki-laki itu 6 tahun di atasku.&lt;br /&gt;“Ayah kemarin ngobrol-ngobrol ma orang tuanya Ahsan. Kami membicarakan tentang hubungan kalian, ke mana arah hubungan kalian. Kami berharap akan berbesanan secepatnya.”&lt;br /&gt;“Tapi ayah, kan dah aku bilang. Aku gak suka Ahsan. Ayah, aku dah punya pilihan lain.”&lt;br /&gt;“Siapa? Anak Mesir itu?” &lt;br /&gt;Ya, ayah pernah aku ceritakan tentang Ainur. Dan memang dulu Ainur pernah telepon rumah dan mengobrol dengan ayah dan ibu.&lt;br /&gt;“Ya ayah. Kami dah saling berkomitmen untuk membina sebuah rumah tangga kelak.”&lt;br /&gt;“Apa yang kamu cari  dari dia?”&lt;br /&gt;“Dia seorang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;hafidz&lt;/span&gt; ayah, kuliah s-2 di Mesir, aku dah cerita kan? Agamanya bagus.”&lt;br /&gt;“Ya, seorang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;hafidz&lt;/span&gt;. Kalo kamu mencari hafidz, yang belajar di Indonesia banyak. Kamu tau temboro kan? Daerah di mana banyak diproduksi hafidz-hafidzah? Dan alumni-alumninya kebanyakan hidupnya hanya mengembara dari satu masjid ke masjid lain. Mereka dengan alasan jihad menyebarkan agama Islam, gak bisa hidup tetap, selalu berpindah-pindah. Kamu pengin hidup seperti itu kelak?”&lt;br /&gt;“Ayah… mereka ga seburuk yang ayah lihat. Lagipula Ainur pasti tidak akan membiarkan saya terlantar, dia akan membimbing saya, membawa saya dalam kebaikan.”&lt;br /&gt;“Kamu mau menjaminnya? Ingat &lt;span style="font-style:italic;"&gt;nduk&lt;/span&gt;. Manusia hidup di dunia dan membina sebuah rumah tangga tidak hanya bermodal cinta dan nekad. Manusia perlu pekerjaan untuk menghidupi keluarganya, cinta ga akan memberi makan nduk. Ayah tidak materialistis, ayah tidak mengharuskan menantu ayah itu orang kaya, tapi setidaknya dia punya pegangan untuk menghidupi anak cucu ayah.”&lt;br /&gt;“Dia di sana juga bekerja ayah, dia menuntut ilmu sambil berdagang seperti apa yang dilakukan Rasulullah.”&lt;br /&gt;“Itu di sana kan, bukan di Indonesia. Apa pekerjaannya di Indonesia? Ayah berharap kelak kamu hidup tidak jauh dari keluarga, apa dia sanggup hidup di sini?”&lt;br /&gt;“InsyaAllah dia bersedia ayah.”&lt;br /&gt;“Terus jaminan untuk kehidupan kalian? Apa kerja dia?”&lt;br /&gt;Aku diam tak bisa menjawab. Yah, untuk jaminan masa depan memang belum ada, tapi ainur berjanji dia akan giat bekerja kelak dan akan membahagiakanku. &lt;br /&gt;“Dengar nduk, orang tua tak akan membiarkan anak-anaknya menderita kelak. Anak adalah titipan Allah, kelak di hari akhir orang tua akan mempertanggungjawabkan atas amanat yang diberikan padanya. Karena itu ayah dan ibu ingin yang terbaik untukmu. Kamu mau ayah dan ibu kelak tidak tenang di alam sana karena telah membiarkan anaknya terlantar? Kamu tentu ingin membuat orang tua bahagia dan bangga mempunyai anak seperti kamu kan?”&lt;br /&gt;Lagi-lagi aku ga bisa membantah kata-kata ayah. Ayah, dengan pendidikan S-2 nya dan profesinya sebagai kepala sekolah tentu setiap kata-kata ayah mempunyai dasar. Ayah juga sering mengisi kajian di masjid atau suatu acara, sehingga soal pengetahuannya tentang agama tak perlu diragukan lagi.&lt;br /&gt;Tapi aku merasa ayah kurang tepat dalam memaknai amanat itu. Apa yang dilakukan ayah pada anak-anaknya lebih bersifat mendikte. Masalah jodoh, rejeki semua harus sesuai dengan keinginan ayah dan juga ibu. Soal pendidikan S-2 yang aku jalani inipun semua ayah yang menginginkan. Padahal aku penginnya begitu selesai S-1 aku kerja dulu, yah seperti pendidikanku, tentu saja profesi yang cocok untukku adalah guru. Seteleh mempunyai pengalaman mengajar aku akan melanjutkan studyku. Atau mungkin jodoh yang datang duluan, akan aku jalani. Ah, sebenarnya bukan itu saja. Aku merasa selama ini aku bukan diriku sendiri, hidupku lebih banyak disetir ayah.&lt;br /&gt;Jum’at itu aku dan ainur janjian ngobrol di YM pakai voice, itu berarti aku harus pake PC, ga bisa pakai hp seperti biasa. Yah, kan kalo jum’at kuliah ainur libur, jadi ainur bisa keluar dari asramanya.&lt;br /&gt;“Kaifa Khaluk ukh?”&lt;br /&gt;“Bikhair alhamdulillah akh…wa antum?”&lt;br /&gt;“Alhamdulillah. Biasalah Ana sedang sibuk mengerjakan thesis. Kemarin ana habis bimbingan, alhamdulillah ga da banyak kritik dari ustadz ana. Ana sudah tak sabar pulang ke Indonesia untung mengkhitbah ukhti.”&lt;br /&gt;“Akh, sebaiknya antum lupakan ana!”&lt;br /&gt;“Maksud anti?”&lt;br /&gt;“Ya antum lupakan saja ana, terlalu banyak halangan hubungan kita. Restu orang tua ana sampe sekarang belum ada. Bahkan ana diminta buat menerima khitbahan ahsan.”&lt;br /&gt;Yah, aku pernah menceritakan tentang reaksi orang tuaku yang tidak merestui hubungan kami. Aku sudah berusaha membujuk ayah dan ibu, namun hasilnya nihil. Aku terlalu lemah untuk melawan mereka. &lt;br /&gt;“Baiklah ukh, ijinkan ana berbicara langsung dengan abah ukhti, biarkan ana mengutarakan niat tulus ana terhadap ukhti.”&lt;br /&gt;“Percuma akh, ayah terlalu keras kepala.”&lt;br /&gt;“Biarkan ana mencoba ukh.”&lt;br /&gt;“Tafadhol akh, ana sudah pasrah…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore itu aku terbangun dengan suara ayah yang sedang marah-marah sambil telepon dengan hp nya. &lt;br /&gt;“Dengar ya nak…anda sudah mengusik ketenangan keluarga saya. Apa yang akan anda berikan kepada putri saya?&lt;br /&gt;Cinta, apa itu cinta. Apa kamu akan memberi makan anak saya dengan cinta?&lt;br /&gt;Sebaiknya anda lupakan anak saya, anak saya akan saya jodohkan dengan laki-laki lain yang sudah jelas akan dapat membahagiakan dia.”&lt;br /&gt;Suara ayah kadang pelan namun tajam, kadang keras seperti orang marah. Hatiku menebak, ini pasti telepon dari ainur. Ayah kelihatan sangat jengkel dan terakhir ayah menutup hp nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika mendapati aku, ayah menatapku kurang suka. &lt;br /&gt;“Kamu jangan berhubungan lagi dengan laki-laki itu. Ayah kurang suka dan ayah tak setuju. Dengarkan itu! Ganti nomor hp mu! Ayah gak pengin melihat kamu berhubungan dengannya lagi, apalagi mendengar suaranya!” hardik ayah keras.&lt;br /&gt;Sekali lagi, ketika kami OL di YM, aku katakana kepada dia untuk melupakanku. Ah, orang tuaku semakin menekanku. Aku harus ganti nomor hp, keluar kalo gak ada keperluan penting tidak boleh, kalau gak begitu suruh nemenin Ahsan. Aku harus sering main ke rumah ahsan. Ah… aku harus menjalaninya walau tersiksa. Depressed!!!!!&lt;br /&gt;Mereka tidak tau kalau selama ini komunikasi ku dengan ainur bukan hanya lewat sms atau telepon, tapi lewat YM juga. Walo tidak boleh keluar jika tidak punya alas an jelas atau ganti nomor, tapi selama aku tetap pegang hp dan GPRS selalu aktif, komunikasi itu takkan bias terputus begitu saja. Tapi aku ingin mengakhiri semua ini. Aku tak berdaya untuk melawan orang tua.&lt;br /&gt;“Ukh, jangan menyerah ukh, tolong. Sabarlah menanti sampai ana pulang ke tanah air.” Bujuk ainur terus.” Anti tau, ana sekarang jadi sakit-sakitan karena memikirkan ini. Ana gak bisa tenang sebelum ana bisa mengkhitbah ukhti. Ana hanya ingin menikah dengan ukhti.”&lt;br /&gt;“Cukup akh, lupakan ana. Semoga antum mendapat wanita yang lebih baik, lebih sholeh dari ana.” Jawabku dengan hati teriris. Aku tidak ingin terhanyut mendengar dia menghiba terus-menerus. &lt;br /&gt;Jujur, aku sebenarnya tidak rela kalau melihat dia dengan wanita lain. Laki-laki itu sudah mengisi hatiku. Jangankan wanita lain, bahkan ketika ainur kenal dan chatting dengan sahabat-sahabatku perempuan pun aku masih was-was dia akan tertarik pada salah satu sahabatku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari ainur berusaha menghubungi, memohon agar aku bersabar dan terus membujuk orang tuaku tentang hubungan kami. Aku berusaha tidak menjawabnya, aku menyibukkan diriku dengan berbagai kegiatan untuk menghibur diri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya ahsan secara pribadi melamarku. Dan aku menerima. Dalam fikiranku, Seiring berjalannya waktu, mungkin lama-kelamaan akan tumbuh cintaku kepada ahsan dan pelan-pelan aku akan melupakan ainur. Kalau difikir, memang gak ada alasan aku menolak ahsan. Laki-laki itu secara agama juga bagus, walo gak sebagus ainur. Pendidikan bagus, profesi atau pekerjaan yang layak, mampu menjamin masa depanku. Dia mencintaiku, buktinya dia selalu mengalah padaku, dia tidak pernah komplen atas sikapku yang kadang acuh tak acuh padanya. Selang dua minggu orang tuanya datang ke rumahku untuk melamarku kepada orang tuaku. Dan hari itu ditetapkan tanggal pernikahanku.&lt;br /&gt;Seiring berjalannya waktu menuju ke hari yang seharusnya sakral bagiku itu, ternyata apa yang aku duga keliru. Hingga malam menjelang hari pernikahanku, aku masih belum tenang. Bayangan Ainur belum bisa hilang dari otakku dan secuilpun rasa cinta belum aku rasakan untuk Ahsan. Aku justru mengeluh kepada sahabatku, ‘bagaimana mencintai calon suami…?’ Aku tak bisa tidur sama sekali. Aku berharap semua ini hanya mimpi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan hari bersejarah itupun tiba tapi aku rasakan hari itu sangat hambar. Tak ada rasa haru ketika ijab Kabul diucapkan, tak ada rasa bahagia menyusup di dada layaknya pengantin baru. Aku seperti boneka hidup. Aku hanya tersenyum tanpa arti ketika melihat mata sahabatku tempat di mana aku mencurahkan segala perasaanku berkaca-kaca. Entah apa yang ada di hatinya, ikut terenyuh melihat nasibku atau terharu karena sahabat yang selama 4 tahun sering bersamanya itu kini sudah menikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, Akhirnya aku bersanding dengan laki-laki pilihan orang tuaku walau hati ini tersiksa. Dalam hatiku hanya berdoa semoga Allah memberiku kekuatan. Aku berharap cinta itu akan datang kepadaku untuk Ahsan, suamiku nanti sehingga aku akan ikhlas menerimanya sebagai bagian dari hidupku. Selamat tinggal Ainur, semoga kamu hanya akan menjadi bagian dari masa laluku. Biarkan kita menjalani hidup sendiri-sendiri karena takdir kita memang tak bersama. Ya Allah, kuatkan hati hamba….&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5353099398808708399-1759883679841026604?l=kumpkis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpkis.blogspot.com/feeds/1759883679841026604/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpkis.blogspot.com/2009/11/akhirnya-aku-menikah-dengan-laki-laki.html#comment-form' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5353099398808708399/posts/default/1759883679841026604'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5353099398808708399/posts/default/1759883679841026604'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpkis.blogspot.com/2009/11/akhirnya-aku-menikah-dengan-laki-laki.html' title='AKHIRNYA AKU MENIKAH DENGAN LAKI-LAKI PILIHAN ORTUKU'/><author><name>onyel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10894577879528821306</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/-OoMkJXiA8w4/TdkggQ5yQrI/AAAAAAAAAX4/Y8MHmB5sHMY/s1600/ca.jpg'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5353099398808708399.post-1862348901582121437</id><published>2009-09-22T03:44:00.000-07:00</published><updated>2010-04-11T20:56:55.696-07:00</updated><title type='text'>MAWAR</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_v2C8rlcyfTI/SriuGm_fZ8I/AAAAAAAAAVk/MO-UPN_J7b0/s1600-h/muslimah.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 136px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_v2C8rlcyfTI/SriuGm_fZ8I/AAAAAAAAAVk/MO-UPN_J7b0/s200/muslimah.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5384244783090722754" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Mawar harum puspitasari itu nama lengkapnya. Nama yang indah sesuai dengan parasnya yang cantik, postur tubuh langsing semampai, kulit putih yang tampak alami, penampilannya yang selalu tertata rapi, kerudung yang selalu ditata seindah mungkin dengan dibentuk model-model seperti di majalah, sangat menarik pandangan mata. &lt;br /&gt;Dulu, awal aku kenal aku sangat mengaguminya. Sebagai gadis cantik dan cerdas ia selalu berpakaian tertutup, hampir selalu pakai rok, jarang pakai celana apalagi pakai celana jeans, dan dia tipe cewek yang tidak terlalu banyak bicara. Wanita seperti itu sangat jarang ada, mungkin 1000 banding 1. Namun semakin aku mengenal kehidupannya, apalagi kemudian aku pindah kos menjadi satu kos dengannya, kekaguman itu semakin surut. &lt;div class="fullpost"&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku dapati hari-harinya ternyata seorang pesolek. Seiring perkembangan kehidupannya di kota, ternyata penampilannya juga ikut berubah. Dia yang dulu berpakaian gamis tertutup menjadi suka memakai celana jeans, kerudung yang dilipat atau dilingkarkan di leher, bahkan kadang keluar kos untuk beli makanan dia gak pake kerudung.&lt;br /&gt;Selain itu pacaran bukan hal asing baginya, bahkan tidak ada dalam kamus hidupnya dia menjomblo lama. Dari sekian banyak cowok yang maen ke kos, meneleponnya dan mengantar jemputnya ke kampus, yang aku tau ada 3 cowok yang sempat singgah di hatinya secara bergantian. Putus si A, beberapa lama kemudian ia berpacaran dengan si B yang emang perjuangannya untuk merebut hatinya luar biasa sampai-sampai ia bela-belain malam-malam dari malang ke Surabaya sampai nyasar entah ke mana, karena dia sama sekali tidak mengenal daerah Surabaya, hanya untuk merayakan ultah Mawar.  Dan akhirnya hubungan mereka kandas juga. Sekarang Mawar sedang berapacaran dengan seorang cowok bernama Aji, yang sudah bekerja dan berstatus PNS di kotanya Mojokerto. Dari sekian kali kandasnya hubungan, Mawarlah yang memutuskan hubungan itu. Dan pacarannya yang terakhir inilah yang paling awet, dan kelihatannya serius, mungkin bawaan si cowok yang emang pegawai maka sikapnya dewasa dan bisa menjaga atau orang jawa bilang ‘ngemong’ Mawar. Dia tidak seperti cowok-cowok sebelumnya yang suka apel dan mengajak Mawar keluar.  Dia juga akrab dengan teman-teman Mawar termasuk aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara ekonomi Mawar emang ga terlalu kaya, tapi berkecukupan. Mungkin kalau aku atau teman-teman yang lain untuk memenuhi kebutuhan di luar kuliah, misalnya beli baju atau pulsa, nonton di bioskop, kami harus berusaha untuk mencari tambahan uang saku sendiri dengan memberi les privat, atau bimbingan belajar atau mungkin kerja sampingan yang lain apalagi kalo mempunyai otak pas-pasan seperti aku sehingga tak ada kesempatan beasiswa. Mawar tidak pernah melakukan seperti yang kami lakukan. Selain emang dari keluarga berkecukupan, dia yang cerdas dengan IP tidak pernah kurang dari 3,2 setiap semester selalu mendapat beasiswa.&lt;br /&gt;Semester tujuh, di mana siswa lain masih disibukkan dengan mata kuliah, mengulangi mata kuliah untuk memperbaiki nilai, dia sudah siap dengan proposal skripsinya. Mata kuliah seminar yang bagiku masih berupa latihan untuk seminar skripsi yang sesungguhnya, dia sudah mantap dan siap proposal skripsi yang sesungguhnya. Tiga bulan kemudian tanpa halangan yang berarti baik dari dosen pembimbingnya maupun dari penelitiannya, akhirnya dia dapat ACC dari dosen pembimbingnya untuk maju ujian skripsi. Teman-teman Sedikit yang tau kalau Mawar selama ini ternyata telah mengerjakan skripsinya. Dan begitu hari ujian skripsi, Mawar berangkat ke kampus dengan baju putih hitam sesuai dengan ketentuan kampus. Teman-teman mengira dia masih akan menjalani ujian proposal skripsi, namun setelah diberi tahu kalo mau ujian skripsi, semua terkejut dan berdecak kagum. Maklum, lumrahnya mahasiswa skripsi pasti akan kelihatan sibuk, tiap hari bawaannya map gedhe, bolak-balik ke kampus untuk bimbingan dengan dosen pembimbing. Namun itu tak tampak pada Mawar. Kegiatannya bertelepon lama-lama dengan pacarnya yang emang lagi menjalani LDR (long distance relationship) seperti biasa, nonton tipi bareng teman-teman satu kos, kadang shopping di mall, tidak terlihat ia sibuk mengerjakan skripsi. Karena itu banyak teman yang gak percaya dia sekarang akan ujian skripsi. Namun memang setahuku dia mengerjakan skripsinya sendiri, tidak ada manipulasi atau kecurangan dia. &lt;br /&gt;Setelah ujian skripsi diapun gak terlalu banyak dipusingkan dengan kegiatan revisi, dosen pengujinya gak terlalu mempersulit proses revisinya. Dan bulan April, sekitar bulan setelah ujian skripsinya iapun diwisuda. Itu berarti ia merampungkan pendidikan S-1 nya selama 7 semester atau 3,5 tahun. &lt;br /&gt;Setelah wisuda, dia kembali ke kampung halaman. Dan dua bulan kemudian ada undangan pernikahannya dengan Aji. Dan kabar-kabar bahagia lainnya yang datang darinya secara beruntun. Dua minggu pernikahannya dia ditarik kerja sebuah sekolah standar internasional untuk mengajar Bilingual, guru-guru SBI pasti memiliki kredibilitas tinggi dan sekolah akan menjamin kehidupan guru-gurunya, padahal setahuku kemampuan bahasa Inggris Mawar lemah, ia harus mengikuti TOEFL (Test of English as a Foreign Language) selama tiga kali untuk mendapat sertifikat lulus, sedangkan aku cukup sekali saja. Setelah diterima di SBI, dia hamil. Beuh, lengkap sudah kebahagiaannya.&lt;br /&gt;“Mawar adalah orang yang beruntung ya?” kata Dwi teman satu kosku, suatu kali.&lt;br /&gt;“Ya nih, hidupnya mulus-mulus saja.”&lt;br /&gt;“Kuliah, lulus cepat, langsung menikah dengan orang sebaik Aji kemudian dapat kerja di SBI yang diidam-idamkan orang seperti kita dan sekarang hamil.” Sahut teman satu kosku yang lain.&lt;br /&gt;Aku mengamini. Emang kenyataannya gitu. Dalam hati ada terselip iri pada kehidupan Mawar yang begitu mulus-mulus saja. Tidak seperti aku yang sudah masuk enam bulan ini belum dapat ACC dari dosen pembimbingku untuk melakukan penelitian, revisi proposal dan terus revisi sampai hampir putus asa aku, badanku sempat drop. Kegiatan les privat aku hentikan sementara, gak perduli muridku marah-marah gara-gara aku gak mau kasih les. Otomatis aku gak mendapat uang tambahan dan untuk mengeprint revisi proposal ini aku harus merogoh tabunganku.&lt;br /&gt;“Gak pa-pa, Nasib orang itu berbeda. Allah mentakdirkan manusia berbeda. Mungkin Allah lebih sayang kepada kita. Allah memberi beberapa rintangan pada langkah-langkah kita agar kita lebih menikmati hidup.” Ucap silvi yang tumben bijaksana.&lt;br /&gt;Aku tersenyum. &lt;br /&gt;“InsyaAllah jika menghadapi suatu musibah atau cobaan yang berat kita pasti lebih kuat dan lebih siap.” Sahut Wati.&lt;br /&gt;“Iya se, kalo kita terbiasa menjalani kerasnya hidup, maka kita akan lebih siap menghadapi segala tantangan yang lebih besar kelak atau jika Allah memberi cobaan kepada kita, insyaAllah kita lebih kuat.” Aku ikut semangat, hatiku sedikit terhibur. Keirian yang aku rasakan sedikit demi sedikit aku singkirkan.&lt;br /&gt;Akhirnya aku di  ACC dosen pembimbingku untuk melakukan penelitian kemudian melakukan analisis data. Setelah beberapa kali revisi hasil analisis dataku dan seluruh skripsiku, di ujung batas akhir pendaftaran ujian skripsi, akupun di ACC untuk maju ujian skripsi dan mendapat jadwal ujian skripsi tepat di hari terakhir ujian skripsi untuk semester ini. Kalo tidak, mungkin aku harus mengikuti ujian skripsi semester depan dan itu berarti aku molor satu semester. &lt;br /&gt;Aku bersujud berkali-kali, mengucap tahmid sebagai tanda syukurku. Dan lagi-lagi alhamdulillah aku mendapat dosen penguji yang enak, gak banyak menjatuhkan apalagi menghina skripsiku seperti pengalaman temanku, dan soal revisipun tidak dipersulit, entah karena dosen-dosen itu malas karena waktunya emang mepet atau capek telah menguji beratus-ratus mahasiswa atau emang skripsiku sudah tidak perlu banyak revisi lagi? Entahlah. I don’ know and I don’t care.&lt;br /&gt;Setelah wisuda, aku disuruh ortu balik ke kampung halaman. Di sana aku benar-benar menganggur, berkali-kali memasukkan lamaran kerja ke sekolah-sekolah, namun gak da respon atau berita sama sekali dari pihak sekolah. Namun aku berusaha tidak putus asa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang itu aku dapat sms dari mawar&lt;br /&gt;Alhamdulillah telah lahir putri kami yang pertama (rabu, 27 Mei 2009). Semoga menjadi anak yang penuh berkah, solehah dan berbakti kepada kedua orang tua. Amin (mawar &amp; aji)&lt;br /&gt;Amien Doaku, sambil membalas sms itu dengan sms ucapan selamat.&lt;br /&gt;Sedikit iri kembali menyeruak dalam hatiku. Mawar sangat beruntung, berbeda dengan nasibku. Sampai sekarang aku masih nganggur, dan jodohpun kelihatannya masih jauh dariku. Namun aku masih berusaha bersyukur dengan keadaanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat dua bulan setelah sms itu, aku mendapat sms yang membuatku terkejut dan tak percaya dari seorang sahabat yang rumahnya satu kota dengan Mawar:&lt;br /&gt;Innalillahi wa innaillaihi raji’un. Telah meninggal aji, suami mawar karena kecelakaan tadi sore. Teman-teman mohon doanya, semoga aji diberi ketenangan dan diterima di sisinya dan semoga mawar dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak percaya begitu saja dengan berita itu. Aku konfirmasikan kabar itu kepada beberapa teman. Dan mereka membenarkan berita itu.&lt;br /&gt;Innalillahi wa innaillaihi raji’un. Aku ikut menangis. Menangis karena ikut berduka dan menangis karena bersalah. Bersalah karena merasa iri dengan kehidupan Mawar selama ini. Aku tidak bisa membayangkan betapa beratnya Mawar menghadapi cobaan yang begitu besar ini. Di usianya yang masih muda, sifatnya yang manja, dengan seorang putri berusia dua bulan, dia harus kehilangan pengayom hidupnya, apalagi sebelumnya dia seolah belum pernah merasakan kerasnya hidup. &lt;br /&gt;Ya Allah, ampuni hamba yang telah iri kepadanya, bukan maksud hamba tidak mensyukuri nikmat-Mu. Ya Allah, berilah ketabahan dan Kekuatan Mawar dalam menghadapi semua ini, lindungilah dia. Ya Allah, terimalah Aji di sisi-Mu, muliakanlah dia Ya Allah…&lt;br /&gt;Amin…&lt;br /&gt;Doaku sepenuh hati….&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5353099398808708399-1862348901582121437?l=kumpkis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpkis.blogspot.com/feeds/1862348901582121437/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpkis.blogspot.com/2009/09/mawar.html#comment-form' title='8 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5353099398808708399/posts/default/1862348901582121437'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5353099398808708399/posts/default/1862348901582121437'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpkis.blogspot.com/2009/09/mawar.html' title='MAWAR'/><author><name>onyel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10894577879528821306</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/-OoMkJXiA8w4/TdkggQ5yQrI/AAAAAAAAAX4/Y8MHmB5sHMY/s1600/ca.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_v2C8rlcyfTI/SriuGm_fZ8I/AAAAAAAAAVk/MO-UPN_J7b0/s72-c/muslimah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5353099398808708399.post-8525733112555135897</id><published>2009-09-14T07:34:00.001-07:00</published><updated>2010-04-11T21:00:32.647-07:00</updated><title type='text'>BENARKAH HAFIDZ ITU BINASA KARENA CINTA?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_v2C8rlcyfTI/Sq9XIGrbgDI/AAAAAAAAAVc/JSD02H1-7tE/s1600-h/kartun.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 188px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_v2C8rlcyfTI/Sq9XIGrbgDI/AAAAAAAAAVc/JSD02H1-7tE/s200/kartun.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5381615876474372146" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;+ Wek, sapaku di yahoo messenger, ketika kudapati ID sahabatku itu menyala kuning dan tersenyum, menunjukkan kalo dia lagi OL&lt;br /&gt;+ Asslmkum&lt;br /&gt;- Wa’alaikumussalam&lt;br /&gt;+Oh ya lanjut pembicaraan kemarin, jadi di sini tuh banyak pondok pesantren. Dari pengamatanku….. bla bla bla aq bercerita, namun dari lawanku hanya jawaban ‘hm´ saja yang kudapat.&lt;br /&gt;+ Hey, touyulz, kamu nyimak ga se? tulisku jengkel, tapi bukan marah, kami biasa ngomong gitu.&lt;br /&gt;- Hey, bicara macam apa kamu? Seperti anak jalanan saja, omngan org yg ga berpendidikan, ga pantas seorang sarjana berbicara seperti itu, apalagi antum seorang muslimah&lt;br /&gt;Daggggggggggggggggggggg..............!!!!!!!!!!!&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;+ Hei, ni sapa? Ni bukan fia to? Aq kaget bukan kepalang dikatakan seperti itu. Fia ga pernah protes aku bicara itu. Bagi kami hal itu biasa sebagai guyonan, candaan.&lt;br /&gt;- Ana teman fia di Mesir, jawab seberang.&lt;br /&gt;+ Kurang sopan sekali kamu memakai ID fia,&lt;br /&gt;- Tak, fia mengizinkan saya pake ID nya. Dy jg srg pke ID saya. Muslimah macam apa anti, kok bicara seperti itu. Tak pantas tau???&lt;br /&gt;+ Hei&lt;br /&gt;- Fia kok punya teman seperti antum, teman-teman fia ga da yang seperti anti, kasar…!&lt;br /&gt;+ Hei, maaf ya ni hak saya, saya biasa bicara seperti ini dengan Fia, ini bagi kami sekedar joke…&lt;br /&gt;- Tak pantas tau? &lt;br /&gt;Aku diem. Ah, rasanya tak perlu aku mengadakan pembelaan. Tapi dia terlalu berlebihan dalam menilai kata-kataku. Padahal kalau dengan fia, kami biasa bercanda seperti ini.&lt;br /&gt;Beberapa hari ini setiap ID fia bila kusapa tak jawab, berarti itu bukan fia. &lt;br /&gt;+ Siapa orang Mesir itu ukh? Tanyaku ketika yang Ol bener-bener Fia.&lt;br /&gt;- Kamu pernah chat dengannya?&lt;br /&gt;+ Ya&lt;br /&gt;- Bicara apa saja?&lt;br /&gt;+ Jawab dulu siapa dia? Cewek atau cowok?&lt;br /&gt;- Cowok, dia habibiku ukh..&lt;br /&gt;+ Habibi?&lt;br /&gt;- Ya, dia kekasih hatiku, dan insyaAllah dia pendamping hidupku kelak.&lt;br /&gt;+ Weh? Kamu ga pernah cerita keberadaannya kepadaku&lt;br /&gt;- Saat itu aku belum ada komitmen dengan dia ukh, jadi aku belum cerita sama kamu.&lt;br /&gt;Hmm… akupun menceritakan kesan pertama pertemuanku dengan dia.&lt;br /&gt;- Namanya Azam. Dia seorg hafidz ukh, kuliah s2 di Mesir&lt;br /&gt;Weh, kekasih? Fia yang begitu alim, tertutup, dzikir yang tak pernah putus mengatakan bahwa dia mempunyai seorang kekasih. Berkomitmen dengan laki-laki yang belum diridlai Allah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari kemudian ID fia teruz menyapaku, &lt;br /&gt;- Salam ya ukhti, ana teman fia di Mesir&lt;br /&gt;+ Wa’alaikumussalam. Afwan saya sibuk. Tulisku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku enggan meladeninya, entah kenapa sikapnya berubah kepadaku. Tapi aku tetap malas meladeninya. Ada sedikit sakit hati atas ucapannya dulu. Beberapa kali menyapa selalu aku jawab dengan alasan yang sama, sepertinya dia sadar kalo aku menghindarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Ukhti, tolonglah saya ingin bicara sebentar. Akhirnya dia  bilang begitu. &lt;br /&gt;- Fia sudah bercerita banyak soal ukhti. Bahwa ukhti tak seburuk yang ana fikir. Afwan ukh, ana telah salah menilai.&lt;br /&gt;+ Beginilah saya akh, mungkin apa yang ada dalam pikiran antum dulu benar. Syukron dah diingatkan.&lt;br /&gt;- Tidak ukh, ana yang terlalu cepat menilai ukhti hanya dari kesan pertama. Ana yakin ukhti tak seburuk yang ana kira. Afwan….&lt;br /&gt;+ Tak apa akh, afwan saya sedang sibuk. Ah, aku masih tetap aja malas meladeninya…&lt;br /&gt;- Ukh, anti mau kan memaafkan ana, ukhti maukan bersahabat dengan ana…?&lt;br /&gt;+ Hmm….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kali dia terus berusaha menyapa aku, bahkan dia meng-add ID YM aq dengan ID dia sendiri, awalnya aku gat au sehingga aku dengan polosnya meng-acceptnya. &lt;br /&gt;-Ukhti sibuk apa se? tanyanya suatu hari&lt;br /&gt;+ Saya sedang bikin blog&lt;br /&gt;- Blog? Ukhti pandai ya&lt;br /&gt;+ Biasa aja&lt;br /&gt;- Ajarin ana ukh&lt;br /&gt;+ Saya tuh biasa aja, bisa-bisaan, lha wong autodidak kok&lt;br /&gt;- Tak pa, ajarin ana ukh…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kami beberapa kali chat.&lt;br /&gt;- Ukh, pake voice ya? Biar enak ngajarin bikin blognya?&lt;br /&gt;+ Voice?&lt;br /&gt;- Na’am ukh… anti tau sendiri, kemarin saya tetp aja lom berhasil register, biar jelas arahan ukhti, pake voice ya?&lt;br /&gt;Byuh, pake voice? Rawan syahwat nich…tapi aku tetap menurutinya. Begitu mendengar suaranya, subhanallah…merdu sekali suaranya, begitu fasih bahasa arabnya, pantaslah kalo dia seorang hafidz. Pantas saja Fia begitu jatuh cinta ma dia, mungkin saja kalau aku terlalu sering berkomunikasi dengan dia, aku juga bisa jatuh cinta ma dia. Astaghfirullah, ya Allah kuatkan benteng iman hamba…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari kemudian fia mengabarkan bahwa ortunya tidak merestui hubungan mereka. Bahkan ortunya meminta dia menikah dengan laki-laki yang dari dulu mengejarnya dan sudah mengenal baik keluarganya. Berbagai macam cara digunakan ortunya agar fia bisa putus kontak dengan Azam. Ketika Azam nekat telpon ke rumah Fia, orang tua fia menceramahinya habis-habisan, memintanya untuk tidak menghubungi Fia lagi dan fia disuruh untuk ganti nomor hp. Karena tekanan orang tuanya, akhirnya fia bilang pada azam agar tidak menghubunginya lagi.&lt;br /&gt;Di sisi lain, Azam juga banyak mengeluh padaku soal Fia. Dia bilang dia sering sakit-sakitan sekarang karena memikirkan hal ini. Dia memintaku membujuk ortunya fia agar merestui hubungan mereka. Aku berusaha menghibur keduanya sekuat tenaga.&lt;br /&gt;Lagi-lagi aku dapat kabar dari Fia, bahwa khitbahan itu sudah terjadi. Memang kedua keluarga belum bertemu untuk memutuskan tanggal pernikahan itu, hanya laki-laki itu telah melamar Fia di depan ortunya, dan Fia maupun ortunya menerima lamaran itu.&lt;br /&gt;Azam terus mengeluh, menceritakan tentang kesengsaraan hatinya karena cinta. Doa ketenangan hati selama 40 hari belum bisa sama sekali membuat hatinya tenang. Aku bilang semua telah terjadi. Ikhlaskan Fia, walaupun itu berat adanya. Bukankah berarti itu Allah tidak menakdirkan mereka berjodoh. &lt;br /&gt;Aku berusaha menghiburnya dengan menyibukkan dia dengan kegiatan blogging. Aku ceritakan kepada dia tentang pengalamanku, tentang adikku yang kena penyakit leukemia dan kanker otak, tentang kehidupanku yang serba keras dan bahwa masih banyak orang yang kurang beruntung dari pada dia.&lt;br /&gt;Kadang dia menyadari dan mulai tenang, namun kemudian dia mengeluh luar biasa tentang kesengsaraan hatinya. &lt;br /&gt;- Ukh, ana dikasih kesempatan cuti tiga minggu oleh ustadz ana. Ana mau pulang ke Indonesia, langsung ke rumah fia&lt;br /&gt;+ Ha?? Untuk apa akh?&lt;br /&gt;- Ana mau menemui ortunya fia, menanyakan mengapa dia tidak merestui hubungan kami, sampai sekarang hati ana belum tenang. Dan ana sekalian mau mengkhitbah fia.&lt;br /&gt;+ Hei, saya rasa itu bukan perbuatan yang bijak akh. Saat ini hidup fia dan keluarganya mulai tenang. Saya yakin alasan mereka juga yang terbaik untuk fia. Saya cukup mengenal keluarganya, dan mereka ga akan menjerumuskan fia. Afwan, bukan maksud saya bilang antum orang yang baik, mungkin ini sebagai petunjuk bahwa Allah tidak menakdirkan kalian berjodoh.&lt;br /&gt;- Hati Ana ga tenang ukh…sebelum tau alasan mereka sebenarnya dan sebelum ana bisa mengkhitbah fia. Ana akan sangat berdosa kalo ana ga bisa memperistri fia, kami sudah berkomitmen untuk bersama dan ana sudah tau semua tentang fia, bahkan aib yang seharusnya tidak diketahui orang lain.&lt;br /&gt;Astaghfirullah, sebegitu jauh hubungan mereka…???&lt;br /&gt;+ Saya sarankan antum ga melakukan niat antum. Selain nanti akan mengganggu ketentraman keluarga fia, antum tau fia sudah dalam khitbahan laki-laki lain, antum tau sendiri bagaimana hokum menghitbah wanita yang dalam khitbahan orang lain kan???&lt;br /&gt;- Ana yakin Fia terpaksa menerima khitbahan itu. Fia pasti tersiksa hatinya.&lt;br /&gt;+ Terserah antum lah akh… saya rasa tak ada gunanya saya memberi saran kepada antum. Antum selalu mementahkan begitu saja setiap saran saya.&lt;br /&gt;Aku jengkel sangat jengkel. Orang ini benar-benar keras kepala Sejak saat itu aku ga pernah meladeni azam, bahkan ID nya aku hapus dari list YM ku. Astaghfirullah, ampuni hamba telah memutus silaturahim ini….&lt;br /&gt;Aku ga tau kabar azam selanjutnya hingga akhirnya sebulan kemudian akad nikah fia dengan laki-laki pilihan orang tuanya dilangsungkan, hanya akad tidak ada resepsi. Sepertinya azam tidak melaksanakan rencananya, buktinya fia dan keluarganya sepertinya gak ada masalah dan pernikahan ini gak ada kendala.&lt;br /&gt;Namun seminggu kemudian fia mengabarkan kalau ia dapat kabar dari teman-teman azam di Mesir bahwa azam telah meninggal. Dia meninggal karena sakit yang berkepanjangan, Azam sakit dan tak punya semangat hidup hingga akhirnya ajal menjemputnya. Kata-kata fia penuh penyesalan, dia bilang teman-teman azam menyalahkan dia atas kematian azam. Azam meninggal karena sengsara, sengsara karena cinta. Innalillahi wa innaillaihi raji’un….&lt;br /&gt;Aku tak habis fikir. Begitu dahsyatnya kah kekuatan cinta sehingga seorang hafidz macam Azam begitu sengsara sampai binasa hanya karena cinta? Rasa tak percaya masih menyelimuti hatiku. Benarkah sang hafidz benar-benar telah tiada dan apakah dia binasa karena cinta? &lt;br /&gt;Jika kabar itu benar, Aku hanya berdoa semoga dosa-dosanya selama di dunia diampuni dan semua amal nya di terima Allah…&lt;br /&gt;Jika kabar itu tidak benar, aku gak bisa menduga siapa yang menyebarkannya dan apa maksudnya menyebarkan berita itu. Huallahua’lam…&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5353099398808708399-8525733112555135897?l=kumpkis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpkis.blogspot.com/feeds/8525733112555135897/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpkis.blogspot.com/2009/09/benarkah-hafidz-itu-binasa-karena-cinta.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5353099398808708399/posts/default/8525733112555135897'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5353099398808708399/posts/default/8525733112555135897'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpkis.blogspot.com/2009/09/benarkah-hafidz-itu-binasa-karena-cinta.html' title='BENARKAH HAFIDZ ITU BINASA KARENA CINTA?'/><author><name>onyel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10894577879528821306</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/-OoMkJXiA8w4/TdkggQ5yQrI/AAAAAAAAAX4/Y8MHmB5sHMY/s1600/ca.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_v2C8rlcyfTI/Sq9XIGrbgDI/AAAAAAAAAVc/JSD02H1-7tE/s72-c/kartun.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5353099398808708399.post-6344046257149441615</id><published>2009-07-11T21:22:00.000-07:00</published><updated>2010-04-11T21:01:19.253-07:00</updated><title type='text'>MBAK MURNI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_v2C8rlcyfTI/Sllysq5DIGI/AAAAAAAAAVE/h8oUXpjFGhk/s1600-h/wanitaIslam.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_v2C8rlcyfTI/Sllysq5DIGI/AAAAAAAAAVE/h8oUXpjFGhk/s320/wanitaIslam.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5357439343487295586" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Byuh, cintaaaaa cinta. Sampai sekarang aku gak habis ngerti, seberapa dahsyat se cinta itu? Cinta pada manusia maksudnya. Aku kadang merasa konyol dan tak habis fikir ketika mendengar ada orang bunuh diri gara-gara di tolak orang yang cintainya ato diputus orang yang dicintainya. Naudzubillah..... Juga ketika sahabat saya yang mengeluh karena cintanya kepada seorang laki-laki tidak mendapat restu dari orang tuanya. Dan pilus cinta ini telah melanda kakakku, Mbak Murni. Hanya saja menurut aku dan keluargaku, dia mencintai orang yang kurang tepat. &lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Mbak Murni memang beda dengan aku dan kakakku yang satunya. Bukannya bermaksud menghina, tapi secara tingkat intelektual, dia paling rendah di antara saudara-saudaranya, tapi ia mempunyai semangat mandiri paling besar dibanding dengan saudara-saudaranya. Mungkin karena itu dia tidak mempunyai semangat untuk menuntut ilmu sampai jenjang yang lebih tinggi, ia memilih bekerja dari pada sekolah. Ijazah D3 yang diterima itu saja berkat bujukan dan dorongan seluruh keluarga. Secara fisik, dia memang lebih cantik dan manis dari pada aku, tapi kulitku lebih putih dari dia, apalagi aku selalu menutupinya. Banyak cowok yang menyukainya. Soal pendidikan agama, dia paling kenyang dibandingkan aku dan kakakku yang satunya. Ketika SD, dia sudah ikut grup ngaji cikal bakal TPA di mana kemudian aku gabung, jadi ia mengenal dan bisa membaca AL-Qur’an jauh sebelum aku. Ketika SD ia sering diikutkan pondok pesantren kilat, tiap liburan. Sekolah SMA di skul yang ber-basic agama. Bahkan kerja pun dia di sebuah yayasan agama. Tapi entahlah ilmu agama yang di perolehnya seolah sama sekalli tidak merasuk ke dalam jiwanya. &lt;br /&gt;Mbak Murni memang orang yang ramah atau orang jawa bilang ‘grapyak’, sehingga banyak orang menyukainya, baik dari golongan ekonomi atas, menengah maupun bawah. Semua orang seolah mencintainya. &lt;br /&gt;Dan semua orang juga terkejut dengan keputusan Mbak Murni untuk menikah dengan Hadi, seorang pemuda yang gak jelas masa depannya, gak jelas martabatnya. Orang tuakupun sebenarnya sangat tidak setuju dan menentang keras hubungan itu. Ah, sebenarnya bukan hanya karena masa depannya yang gak jelas itu lah yang membuat keluargaku terutama ayahku gak setuju. Kami mengenal Hadi, bahkan sangat mengenal. Dia orang yang sering main ke rumah, kami kenal dia sebagai teman mas Anto, dan dia kenal mbak Murni juga biasa saja, gak terlalu dekat, itu yang kami tau. Dan kami, dibiarkan bergaul dengannya oleh orang tua kami, sebatas bergaul, tidak lebih. Orang tua sudah menganggap kami cukup dewasa dan mampu menjaga diri, sehingga memperbolehkan kami bergaul dengan sapa saja. &lt;br /&gt;Hadi yang kami kenal, cowok luntang-luntung, seolah tidak punya cita-cita, seolah tidak mempunyai masa depan. Agama ‘nol’ itulah yang kami tau. Jangankan mengaji, untuk Sholat Fardlu saja, kami hampir tak pernah tau, seolah dia tak pernah melaksanakannya. Padahal harapan ayah, dia mendambakan seorang menantu yang baik secara agama, agar bisa membimbing anak keduanya itu agar semakin dekat dengan sang-Khalik. Soal pendidikan juga payah, yang aku tau dia hanya lulus SMP dan tidak melanjutkan sekolah. Soal kerjaan, ayah mempunyai beberapa usaha yang mungkin bisa di serahkan kepengurusananya kepada menantunya, jadi tak terlalu bermasalah.&lt;br /&gt;Jujur, di antara sekian banyak teman-teman Mas Anto maupun Mbak Murni yang aku kenal, Hadilah orang yang paling tidak aku sukai. Tampan memang parasnya, tapi akhlaknya tidak senada dengan parasnya. Aku lebih suka Nurman yang secara fisik biasa, namun halus dan sopan orangnya serta ramah pada siapa saja ato yang lainnya.&lt;br /&gt;“Nduk, lupakan Hadi. Cari laki-laki yang lain, yang lebih baik dari Hadi.” Bujuk ibu suatu hari.&lt;br /&gt;“Tidak Bu, aku dan Hadi dah janji akan hidup bersama selamanya. Aku hanya mau menikah dengannya, Bu!” bantah Mbak Murni membuat ibu semakin terenyuh.&lt;br /&gt;“Tapi apa nduk yang kamu harapkan dari Hadi?”&lt;br /&gt;“Bu, kami dah saling suka. Aku sudah mengenalnya betul...”&lt;br /&gt;“Namanya orang menikah itu tidak hanya modal cinta saja, Nduk...”&lt;br /&gt;“Sudah Bu, pokoknya aku hanya mau menikah dengan Hadi. Selama ini aku ga pernah meminta macam-macam kepada bapak dan ibu. Hanya ini saja, tolong bapak ibu restui.”&lt;br /&gt;“Tapi Nduk...”&lt;br /&gt;“Sudah Bu, pokoknya aku hanya mau menikah dengan Hadi. Itu saja bu!” jawab mbak Murni sambil meninggalkan ibu masuk kamarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak nduk, ibu tetap tidak setuju kalo kamu nikah dengan Hadi. Sampai kapanpun ibu gak akan ridlo.” ibu kokoh pada pendiriannya.&lt;br /&gt;Sejak diketahuinya hubungan Mbak Murni dan Hadi, dan kekerasan kepala mbak Murno, Ibu jadi selalu memantau kegiatan mbak Murni. Ibu hanya mengizinkan mbak murni keluar untuk bekerja saja, itu pun ibu selalu memantau keberadaan mbak Murni. Ibu tak pernah mengizinkan  mbak Murni ketemu dengan Hadi. Jika mbak Murni ketahuan pergi bertemu dengan Hadi, maka ayah, ibu, maupun mas anto tak segan-segan menyeret mbak Murni pulang, ya gak terlalu kasar lah, tapi maksa. Dan parahnya, gak ada pembelaan sama sekali dari Hadi. Dia hanya pasrah ketika mbak murni di bawa oleh keluargaku. Ibu juga menyita hp mbak Ningrum.&lt;br /&gt;Aku mendukung keluargaku. Kalo aku pikir laki-laki macam apa Hadi itu. Kalo dia memang gentle dan berniat baik untuk menikahi mbak Murni, seharusnya dia datang baik-baik ke keluarga, melamar mbak Murni dengan resiko apapun. Tapi sama sekali tidak ada tindakan dari dia.&lt;br /&gt;Sore itu Mbak Murni pergi melebihi jam biasanya. Di tempat kerjanya sudah tidak ada. Di rumah seorang teman yang biasanya menjadi tempat Mbak Murni main itu juga tidak ada. Di tunggu sampai malam juga gak datang-datang. Keluargaku panik bukan main. Kami seharian berbagi tugas mencari ke tempat-tempat biasanya Mbak murni berada, teman, saudara semua sudah di cari. Hasilnya nihil. Orang tuaku mencari ke rumah Hadi, dan Hadi hanya menunduk mengatakan kalau Mbak Murni gak ada. Keluarga ku tak bisa memaksa untuk menggeledah seluruh rumah Hadi. Kami masih mempunyai etika dan sopan santun, apalagi kami hidup dalam lingkungan pedesaan. Kami masih yakin bahwa mbak Murni memang sengaja kabur, beberapa pakaiannya sudah tidak ada. Dan kalo dipikir, mbak Murni gak akan sebodoh itu bersembunyi di rumah Hadi. &lt;br /&gt;Besok siangnya Mbak Murni telepon rumah, mengabarkan dia baik-baik saja. Dia berada di suatu tempat yang sangat jauh dari rumah dan keluarga tidak usah mencarinya. Tapi keluarga tetap memintanya pulang, terus merayunya. Hingga mungkin mbak murni bosen dan menutup telepon tanpa pamit. Kami mengira-ngira di mana mbak Murni sekarang? Di mana dia meletakkan motornya yang biasa dia bawa kerja. Mungkin kalau ketemu bisa untuk petunjuk dimanakah Mbak Murni berada.&lt;br /&gt;Besoknya Mbak Murni telepon lagi &lt;br /&gt;“Pak, aku akan pulang jika bapak sudah mendaftarkan pernikahanku dengan Hadi di KUA.”&lt;br /&gt;“Ya dah, bapak janji, pulanglah dulu, baru nanti bapak daftarkan. Keluarga sudah kangen nduk, pulanglah...!” jawab bapak waktu itu.&lt;br /&gt;“Tidak bapak, pokoknya aku akan pulang pas di hari aku dinikahkan dengan Hadi.”&lt;br /&gt;Mbak Murni memang keras kepala. Dan akhirnya demi menuruti putrinya yang satu ini, bapak benar-benar mendaftarkan pernikahan Mbak Murni dan Hadi.&lt;br /&gt;Dah tepat di hari terjadwalnya pernikahan, Mbak Murni datang ke KUA dengan Hadi dan seluruh keluarga Hadi. Mbak Murni datang dengan make up dan kebaya, seolah semua sudah terencana baik-baik olehnya. Sementara dari pihak keluargaku hanya bapak dan paman yang mendampingi ayah, Mas Anto memilih tetap masuk kerja. Aku gak tau bagaimana keadaan ketika akad nikah itu terjadi. Aku hanya menebak penuh keharuan.....&lt;br /&gt;Aku dan keluarga di rumah sibuk memasak untuk syukuran pernikahan mbak murni. Ah, pantaskah ini disebut syukuran???? Padahal saat itu hati Ibu remuk redam, bukan hanya ibu, tapi bapak, Mas Anto dan juga aku, dan mungkin juga orang-orang yang menyayangi Mbak Murni. &lt;br /&gt;Sepulang dari KUA semua rombongan menuju ke rumahku. Bapak dan paman dalam mobil tersendiri, sedang Mbak Murni dan Hadi bersama rombongan keluarganya. Dapat ditebak, betapa harunya suasana saat itu, ketika rombongan itu datang. Aku dengar ibu menangis tersedu-sedu ketika Mbak Murni menyalami ibu dan mencium tangan ibu serta meminta doa restu dan maaf. Nenek yang sangat menyayangi cucu satunya ini juga menangis tersedu-sedu. Seluruh undangan yang mengetahui kejadian sebenarnya juga ikut menitikkan air mata, dan aku? Aku malah lari masuk kamar, menghempaskan tubuhku ke kasur. Aku menangis sejadi-jadinya. Jujur aku rindu berat pada Mbak Murni, tapi aku belum bisa menerima kenyataan ini sama sekali. Aku gak sekuat ibu yang mencoba tegar menghadapi masalah itu walau dengan tangis yang menderai, dan bapak yang begitu kuat menahan tangis saat itu. Padahal aku tau bahwa hati mereka remuk redam, aku tau beberapa hari sebelumnya mereka begitu bersedih, dan mereka hampir tak pernah terlihat makan.&lt;br /&gt;Malamnya acara syukuran di laksanakan, syukuran itu sebagai sarana untuk mempublikasikan kepada masyarakat sekitar bahwa anak perempuan bapak, Mbak Murni sekarang telah sah menjadi istri Hadi. Tapi malam itu Mbak Murni dan Hadi tidak datang pada acara syukuran, entah apa sebabnya.&lt;br /&gt;Ibu lebih banyak diam dan berusaha menahan tangis. Dan aku lemah tidak bisa menghiburnya. Bapak dan Mas Anto tampak begitu tegar ketika menghadapi tamu-tamu yang datang. Dalam hatiku penuh dengan beribu-ribu doa, untukku sendiri, keluargaku dan Mbak Murni.&lt;br /&gt;Ya Allah, berilah kelapangan dan ketabahan hati hamba menerima segala kenyataan dan cobaan yang Engkau berikan. Ikhlaskan hamba menerima kenyataan ini walau pahit adanya. Bukakanlah pintu hati hamba untuk menerima Hadi sebagai bagian dari keluargaku. Jadikan ini pelajaran bagiku juga untuk semakin mendekatkan diri pada Mu ya Allah, mendasari hati hamba dengan cinta kepada-Mu, agar sedahsyatnya cinta dunia melanda, maka aku masih punya pegangan Engkau.&lt;br /&gt;Ya Allah, berikanlah kekuatan kepada keluargaku. Berilah kelapangan kami menerima setiap cobaan yang melanda.&lt;br /&gt;Ya Allah, berilah petunjuk dan bimbingan kedua mempelai, agar mereka semakin mendekat pada-Mu. Jadikanlah pernikahan mereka sebagai sarana perbaikan diri dan latihan tanggung jawab mereka. Jadikanlah keluarga mereka keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah, menghasilkan keturunan yang shaleh dan shalehah yang kelak akan meringankan dosa mereka jika kelak mereka kembali ke Hadirat-Mu.&lt;br /&gt;Amin.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5353099398808708399-6344046257149441615?l=kumpkis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpkis.blogspot.com/feeds/6344046257149441615/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpkis.blogspot.com/2009/07/mbak-murni.html#comment-form' title='10 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5353099398808708399/posts/default/6344046257149441615'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5353099398808708399/posts/default/6344046257149441615'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpkis.blogspot.com/2009/07/mbak-murni.html' title='MBAK MURNI'/><author><name>onyel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10894577879528821306</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/-OoMkJXiA8w4/TdkggQ5yQrI/AAAAAAAAAX4/Y8MHmB5sHMY/s1600/ca.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_v2C8rlcyfTI/Sllysq5DIGI/AAAAAAAAAVE/h8oUXpjFGhk/s72-c/wanitaIslam.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5353099398808708399.post-7106797309369083638</id><published>2009-07-11T20:37:00.000-07:00</published><updated>2010-04-11T21:02:18.506-07:00</updated><title type='text'>LAKI-LAKI YANG DULU MENOLAKKU ITU SEKARANG JUSTRU MEMINANGKU</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_v2C8rlcyfTI/SllcepMX0uI/AAAAAAAAAU0/W72OWGLtTzU/s1600-h/ikhwan20n20akhwat4.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 265px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_v2C8rlcyfTI/SllcepMX0uI/AAAAAAAAAU0/W72OWGLtTzU/s320/ikhwan20n20akhwat4.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5357414913257493218" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Aq hnya manusia lemah, yang begitu silap dengan keindahan duniawi. Begitu silau dengan Keindahan fisik, tanpa memperhatikan bagaimana dalamnya. Bertindak tanpa berfikir, dan akhirnya hanya penyesalan mendalamlah yang aku dapatkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah sms panjang masuk ke hp sony ericsson ku. Panjang, karena tidak ada kata-kata yang disingkat sama sekali. Dan sms itu tidak ada rangkaian sebelumnya. Nomor pengirimnya memang telah ter save dalam phonebook ku. Ananta. Nomor hp yang ah dah lama tidak pernah mengirim sms padanya, yah kalo aku ingat-ingat sekitar tiga bulanan. Aku membiarkannya, aku fikir dia salah kirim, mungkin sebentar lagi dia sms minta maaf kalo salah kirim. Dan ternyata dugaanku meleset! Sebuah sms masuk lagi.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Adakah kesempatan lagi aku untuk kembali dan mengulang lagi saat itu?&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Lha kok masih lanjut smsnya? Sontak aku balas smsnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aslmkum.  Maaf mas, salah kirim ya? Mas td dua kali kirim sms ke saya&lt;/span&gt;.Smsku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Wa’alaikumsalam. Eh, maaf kalo mengganggu.&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hanya itu balasnya, tidak ada jawaban dari pertanyaanku. Aku memberanikan diri membalasnya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Maaf, kliatnnya mas da mslh ya?(mf hnya brtnya)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ya seperti itulah. Oh ya, gmna kbrnya. Lama ya aq ga sms?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Alhamdulillah baik. :) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, tiba-tiba ingatanku melayang pada tiga bulan yang lalu. Ketika saat itu Aisyah, sahabatku memperkenalkan seorang sepupunya padaku. Katanya kami serasi makanya dia ingin menjodohkan kami. Pertama dia berikan no hp ku pada cowok itu yang dikenalkan dengan nama Ananta. Karena posisi beda kota kami masih berkomunikasi lewat hp.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aisy begitu semangat mempromosikan Ananta padaku, bahwa dia cowok yang berakhlak baik, pinter ngaji, dan mempunyai masa depan yang cerah. Dia tau bahwa sosok itu ‘aku banget’.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya cowok itu sms, formalitas mengajak kenalan kemudian iseng-iseng bertanya apa kegiatanku dan bla bla, basa basi. Beberapa kali dia sms sekedar membangunkan tidur, mengucapkan selamat pagi siang atau sore ato malam, mengingatkan sholat. Dan aku berusaha untuk mencegah sms itu berkelanjutan. Ah, aku takut terkena virus merah jambu. Aku bilang padanya, sebaiknya jangan terlalu sering sms. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu aku bilang bahwa Aku takut dia menyesal kalau tau bagaimana aku sebenarnya, bahwa aku bersahabat dengan aisy bukan berarti aku secantik aisy, tidak setertutup aisy dan tidak secerdas aisy. Dia bilang, dia tidak perduli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menginginkan kami bertemu langsung saja. Kalo memang Allah menjodohkan, maka saat itu juga pasti akan ada ketetapan hati untuk melamarku tanpa harus ada pedekate. Toh, dia pasti sudah mengenal bagaimana aku dari Aisy, dan aku cukup mengenal bagaimana dia lewat Aisy juga. Aku percaya Aisy akan bicara apa adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya ketika ada kesempatan kami bertemu. Jujur secara fisik dia lebih dari yang aku bayangkan. Apalagi sebelumnya Aisy kata wajahnya biasa. Ketika kami bertemupun dia memberi salam dengan menangkupkan tangan di depan dada. Kami ngobrol bertiga dengan Aisy. Aisy memberi kesempatan kami mengobrol tanpa meninggalkan kami. Kalo kami sama-sama diam, Aisy yang memancing pembicaraan. Kesan yang aku rasakan, dia tidak seasyik dalam sms. Kata hatiku mengatakan dia kecewa dengan keadaanku yang sebenarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah pertemuan itu, dia tidak menghubungiku sama sekali. Dan Aisy tidak pernah menyebutkan kembali nama Ananta di depanku. Seolah semua hanya angin lalu. &lt;br /&gt;“Bagaimana pendapat ananta?” tanyaku suatu kali&lt;br /&gt;“Afwan ukh, aku ga tau. Ananta belum menghubungiku sama sekali.”&lt;br /&gt;Hanya itu, selanjutnya nama Ananta tenggelam begitu saja. Ada sedikit kecewa dalam hatiku,  jujur ada sedikit harapan sebenarnya aku dengan sosok Ananta itu, itu juga tak lepas dari cerita-cerita tentang Ananta oleh Aisy. Terakhir aku dengar kabar dari Aisy bahwa Ananta sekarang tengah berta’aruf dengan seorang gadis tetangga desanya. Aisy berkali-kali minta maaf padaku soal kejadian itu. Aku bilang gak apa-apa, berarti kami memang tidak ditakdirkan jodoh oleh Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ketika di walimahan Aisy kami bertemu kembali. Jarak antara akad nikah dan resepsi adalah seminggu. Jadi otomatis akupun ke rumah Aisy dua kali, malah yang pas resepsinya aku harus nginep karena ikut bantu-bantu. Saat itulah aku kadang berinteraksi dengan Ananta, yang sebagai sepupu Aisy juga bantu-bantu. Dan tanpa sengaja akupun berkenalan dengan ibu Ananta yang ramah dan aku sangat menyukainya. Saking ramahnya aku bahkan sempat di ajak ke rumahnya waktu itu dengan alasan ada barang yang harus diambil dan aku yang mengantarkannya. &lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ri, Q dngr kmrin ananta tdk mneruskan proses ta’arufnya dgn gadis ttangga desa itu. Pesan Aisy ketika kami chat di YM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya, kenapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ga tau aku. Dia bilng atinya bimbang terus, belum ada kematapan untuk bersama gadis itu. Dan ia kasihan, daripada ngambang ga jelas, maka ia pun menghentikan ta’arruf ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Owh&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ah rasanya gak da gunanya kalo ngomongin masalah Ananta. Dan kamipun terus ber chat ria dengan topik lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Aslmkum. Selamat pagi.&lt;/span&gt; Sms datang dari Ananta menyambut pagi di hari minggu&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Wa’alaikumussalam. Met pagi mas.&lt;/span&gt; Balasku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bagaimana kabar eri?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Alhamdulillah baik, Mas ananta?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Alhamdulillah baik juga. Eri, bolehkah aku telpon Eri?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ada apa mas? Ada yang pnting?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ada yang ingin saya sampaikan. Tlong kalo memang tidak sdg sbuk, angkat telepon aku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tak berapa lama kemudian dari hp ku berdentang lagu nasyid All for U nya Noor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa mas?” sambut ku begitu mengangkatkan, tak perlu salam, bukannya di sms tadi dah salam?&lt;br /&gt;“Eri, maaf kalo aku mengganggumu....” katanya diam, aku tak segera menyahut, namun dia tak kunjung mengeluarkan suara lagi.&lt;br /&gt;“Ada apa mas?” kataku mengulangi pertanyaan tadi.&lt;br /&gt;“Maafkan atas apa yang aku lakukan dulu.....” suara itu lirih, seolah menekankan bahwa penuh dengan kesungguhan. “Er.....”&lt;br /&gt;“Eh Iya, tak apa mas.....eh yang mana mas?” ah kenapa aku jadi salah tingkah sendiri?&lt;br /&gt;“Er, maukah kamu memberi kesempatan aku sekali lagi?”&lt;br /&gt;“Maksudnya?”&lt;br /&gt;“Maukah kamu menikah denganku?”&lt;br /&gt;“Eh....mas....”&lt;br /&gt;“Aku tau, kamu gak harus menjawabnya sekarang. Aku pikir bahwa sebaiknya aku secepatnya mengatakan. Aku akan memberimu kesempatan untuk menjawabnya, sampai kamu bener-bener siap menjawabnya.”&lt;br /&gt;“Aku...”&lt;br /&gt;“Saya serius ya ukhti....dengan ini saya, Ananta meminang Eri sebagai istri saya...” katanya tegas. “Syukron ya ukhti, saya akan menunggu jawaban ukhti. Assalamu’alaikum.”&lt;br /&gt;Ah, rasanya belum percaya dengan apa yang barusan aku dengar. Tapi laki-laki itu meyakinkanku. Hatiku tiba-tiba jadi bimbang. Bukannya dulu dia sempat berharap pada cowok itu? Ah andai saja lamarannya itu datangnya waktu itu tentu dia akan dengan tegas menerimanya. &lt;br /&gt;Sekarang, ah semua malah semakin jauh dari kata ‘iya’. Dulu saja begitu melihat fisikku yang sesungguhnya dia tidak sudi lagi berkomunikasi denganku, bagaimana kalo suatu saat ada wanita yang jauh lebih sempurna dariku, akankah dia meninggalkanku? Dia juga dengan mudahnya memutuskan ta’aruf dengan gadis itu, apakah jika suatu saat dia merasa tak cocok denganku dia akan dengan mudahnya bilang pisah. Tiba-tiba muncul pertanyaan itu di kepalaku. Ah hatiku semakin bimbang. Satu-satuntya jalan adalah istikharah,  meminta petunjuk kepada Allah.&lt;br /&gt;Tapi, bukankah sekarang dia kembali padaku, bukankah itu bukti kalo dia lah jodohku, padahal dia sudah tau fisikku sebenarnya, Bukankah itu berarti dia benar-benar menerimaku apa adanya. Mungkin dulu memang kekhilafannya.&lt;br /&gt;Setalah istiharah 3 malam berturut-turut, pikiranku jadi terbuka, mungkin  ini suatu petunjuk dari Allah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Asslmkum, af1 kalo ganggu. Mas sedang tidak sibukkan? Akhirnya aku beranikan diri sms.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Baru saja sms itu terkirim, ada telpon  masuk di hpku.&lt;br /&gt;“Assalamu’alaikum.”&lt;br /&gt;“Wa’alaikumussalam...ada apa dik?”&lt;br /&gt;“Rasanya saya tak perlu berlama-lama memberikan keputusan saya.”&lt;br /&gt;“Oh....bagaimana?” suara dari seberang terdengar lirih, seperti orang yang pasrah menunggu vonis pengadilan dibacakan.&lt;br /&gt;“Jujur saya sempat bimbang Mas, namun kemudian Saya berfikir bahwa...saya tak ada alasan untuk menolak mas.....”&lt;br /&gt;“Alhamdulillah....” seru seberang &lt;br /&gt;“Saya tau orang bisa berubah, mungkin dulu kekhilafan Mas. Saya harap Mas bisa konsekuen dengan apa yang Mas katakan.”&lt;br /&gt;“Insya Allah Er, aku akan berusaha menjaga apa yang telah aku ucapkan. Besok jam 8 aku dan kedua orang tuaku akan datang melamarmu.”&lt;br /&gt;“Besok? Apa tidak terlalu tergesa-gesa Mas?”&lt;br /&gt;“Tidak, saya sudah berfikir jauh-jauh hari.”&lt;br /&gt;Dan benar, besoknya hanya telat 5 menit Ananta dan kedua orang tuanya sampai ke rumahku. Ananta bilang tadi sempat nyasar. Setelah mengatakan maksud dan tujuan keluarga Ananta dan aku bilang bersedia, Hari itu juga ditetapkan hari akad nikah aku dan Ananta yang akan dilakukan minggu depan, soal hari resepsi dibicarakan nanti, dengan keluarga besar kami. Tak apa-apalah menuruti apa kata orang-orang tua yang masih begitu memperhatikan hari baik, toh selama tidak melanggar syari’at Islam ga masyalah to? Sementara Aisy kaget tak percaya namun bahagia mendengar berita pernikahan kami.&lt;br /&gt;Alhamdulilah, ya Allah berkahilah pernikahan ini, amin.......&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5353099398808708399-7106797309369083638?l=kumpkis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpkis.blogspot.com/feeds/7106797309369083638/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpkis.blogspot.com/2009/07/laki-laki-yang-dulu-menolakku-itu.html#comment-form' title='12 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5353099398808708399/posts/default/7106797309369083638'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5353099398808708399/posts/default/7106797309369083638'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpkis.blogspot.com/2009/07/laki-laki-yang-dulu-menolakku-itu.html' title='LAKI-LAKI YANG DULU MENOLAKKU ITU SEKARANG JUSTRU MEMINANGKU'/><author><name>onyel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10894577879528821306</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/-OoMkJXiA8w4/TdkggQ5yQrI/AAAAAAAAAX4/Y8MHmB5sHMY/s1600/ca.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_v2C8rlcyfTI/SllcepMX0uI/AAAAAAAAAU0/W72OWGLtTzU/s72-c/ikhwan20n20akhwat4.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>12</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5353099398808708399.post-4953456855871265504</id><published>2009-06-22T06:38:00.000-07:00</published><updated>2010-04-11T21:02:57.473-07:00</updated><title type='text'>Hari Pertama Ramadlan Kang Heri</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_v2C8rlcyfTI/SkInGQTw5iI/AAAAAAAAATc/QC0VKWTqAic/s1600-h/PIC_0092.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_v2C8rlcyfTI/SkInGQTw5iI/AAAAAAAAATc/QC0VKWTqAic/s200/PIC_0092.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5350882295680132642" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Rombongan mahasiswa PPL (Program Pengalaman Lapangan) sampai di Magetan tidak secara bersama-sama. Aku entah yang ketiga atau keempat datangnya. Ada yang datang sendirian, ada yang rombongan. Ketidakbersamaan ini karena faktor letak rumah yang berbeda, ada yang asli magetan, ada aku yang Ponorogo, cuma sekitar 1 jam-an dari Magetan, tapi kebanyakan berangkat dari Surabaya, kota di mana kami menimba ilmu. &lt;div class="fullpost"&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Aku berangkat dari rumah. Masing-masing personil rombongan PPL itu baru kenal kemarin pas upacara pelepasan mahasiswa PPL di lapangan gedung Rektorat.&lt;br /&gt;Setelah aku datang dan menata semua barang-barangku di kamar kosku yang baru dan sempit yang kemudian baru aku sadari begitu pengap, Ada sms, dari namanya Ari, aku mengingat-ingat yang namanya Ari dari rombongan PPL ini. Hm... lupa. Di sms dia suruh aku keluar kos.&lt;br /&gt;Ok, aq balas.&lt;br /&gt;Oooo itu toh yang namanya Ari, eh dia ma cowok lain juga yang aku lupa sapa namanya.&lt;br /&gt;Aq persilahkan masuk ke kos, sekalian ajang mengakrabkan diri juga. Kebetulan rombongan PPL yang satu kos ma aku ada enam. Kami pun mengobrol. Tapi ada yang aneh dengan cowok yang dibonceng Ari itu yang kemudian memperkenalkan diri dengan nama Heri. Dia keliahatan seperti orang linglung, tak mempunyai semangat yang 'bergas' seperti Ari. Rasanya kurang menyakinkan dia dari Jurusan Olah Raga. &lt;br /&gt;Ari bercerita bahwa dia sedang kebingungan nyari tempat kos, kemarin dari Surabaya dia sudah memesan satu tempat kos, bapak kos itu bilang ‘OK', tapi tadi ketika ia datang, pak kos itu malah menolak, alasannya kos itu adalah kos cewek, dan dia merasa gak enak dengan tetangga kalo dia menerima anak kos laki-laki. Konyol sekali tapi seperti itulah kejadiannya. Dan dia sementara menitipkan barang-barangnya padaku, sementara dia mencari tempat kos. &lt;br /&gt;Sorenya dia mengabari kalo dia mendapat tempat kos, dan ternyata kosnya ini sangat dekat dengan kosku, cuma berjarak dua rumah, terpisah kebun belakang rumah. Wow, kami senang sekali.&lt;br /&gt;Kemudian aku mendapat cerita tentang Heri dari Ari dan Andik, dua cowok sefakultas dengan Heri, bahwa Heri dulunya adalah pecandu berat narkoba, sekarangpun masih belum lepas sepenuhnya dari ketergantungan itu. Bahkan otaknya pun terkena akibat mengkonsumsi barang-barang terlarang itu, makanya dia tampak seperti orang linglung.&lt;br /&gt;Udara di Magetan yang dingin membuatnya semakin mempunyai alasan untuk mengkonsumsi barang-barang terlarang itu, terutama alkohol. Teman-teman berusaha mengingatkannya, namun setiap kali teman-temannya menyinggung maslah kecanduannya, maka ia memilih menjauh dari mereka. Aku sendiri bingung menghadapinya.&lt;br /&gt;Aku mencoba tidak menyinggung kebiasaan buruknya itu, ternyata dia asyik-asyik aja kalo bersamaku. Aku berusaha belajar dari kebersamaanku dengan teman-teman, bagaimana bersikap dengan Heri. Ah, sayang sekali. Sebenarnya Heri itu baik, mungkin karena fisik aku yang paling kecil dalam rombongan ini, dia menjadi menganggapku sebagai adik sendiri. Dia memanggilku 'nduk' yang artinya panggilan pada anak perempuan. Sebenarnya aku kurang suka dengan panggilan itu, tapi jika emang panggilan itu mempererat tali persaudaraan di antara kami, keegoisan harus disingkirkan. Kalo dia mau beli makan, dia selalu nawarin aku untuk dibelikan sekalian atau tidak, maunya menu apa, hampir selalu, kalau gak lewat sms ya datang ke kosan. Dia tidak pernah risih dengan cara berpakaianku yang selalu aku usahakan menutup aurat, sangat berbeda dengannya penampilannya yang gaul, celana sobek-sobek atau agak melorot kadang celana boxernya kelihatan. Sebagai balasannya aku panggil dia kank, yang artinya kakak laki-laki dalam bahasa jawa.&lt;br /&gt;Kalo dibandingkan yang lain, Kang Herilah yang paling menghargaiku. Beberapa temanku menyebutku ‘sok suci’ karena aku agak menjaga jarak jika sedang ngumpul teman-teman sesama PPL, itu karena memang dalam Islam melarang adanya ikhtilat kan? Ah, sebenarnya aku dalam ngumpul itupun masih masuk golongan ikhtilat kok... Dan beberapa juga memanggilku ‘bu Ustadzah’, itu bukan sanjungan melainkan ke arah sindiran karena mereka menyebutkannya dengan nada sinis, hal itu karena aku yang hampir tak pernah menanggalkan kerudungku dan sering mengingatkan mereka bagaimana bersikap selama di Magetan ini apalagi kalo di hadapan siswa-siswa yang kita ajar. Aku selalu mengingatkan agar mereka jangan bawa kebiasaan pergaulan di Surabaya yang kurang baik, di mana mengumpat itu bukan hal yang tabu lagi (ah bukannya aku maksudkan kalau budaya Surabaya itu jelek, tapi harus kita semua akui, bahasa Jawa Surabaya kesannya kasar dari bahasa jawa asli) karena akan ditiru oleh siswa-siswa SMA yang masih yang kondisi psikisnya masih labil, apalagi anak kelas X yang masih menginjak usia remaja (mahasiswa PPL mayoritas mengajar anak kelas X).&lt;br /&gt;Aku akui, tentang teori perkembangan anak dan materi pelajaran, mereka ahli, bahkan aku sering berguru kepada mereka. Tapi pendidikan umum tanpa diimbangi dengan pendidikan akhlak, maka akan tak terarah. Bisa saja ilmu yang kita tanam dengan harapan untuk dimanfaatkan demi kebaikan malah disalahgunakan. Naudzubillah...&lt;br /&gt;Kembali ke Kang Heri, ketika asyik ngobrol dia berujar&lt;br /&gt;“Huh Ningrum tuh, malam-malam sms Cuma nanyain aku ngapain, lagi di mana. Sapa dia, pacaku bukan, kakak bukan. Dia terlalu mencampuri urusanku, aku ga seneng ada orang terlalu mencampuri urusanku. Aku saja tak pernah mencampuri urusannya. Mau kemana kek, mau ngapain kek itu urusanku. Lha ebesku aja ga pernah mau tau urusanku.”&lt;br /&gt;Astagfirullah, benarkah? Apakah ini alasan atau penyebab sampai Kang Heri memilih jalan yang salah….hingga terjerumus dalam lembah narkoba ini?&lt;br /&gt;“Orang tuaku lho, wez ga ngurusi aku. Ebes terlalu asyik berdakwah ke sana ke sini, tapi anaknya ndiri ga pernah diurusi.”&lt;br /&gt;Subhanallah, lagi-lagi aku terkejut bukan kepalang mendengar pengakuan Kang Heri. Jadi selama ini ayahnya justru seorang ahli dakwah?&lt;br /&gt;“Ah kang, teman-teman kan mengingatkanmu itu berarti mereka perhatian sama kamu kan kang? Mereka pengin kamu berhenti mengkonsumsi barang-barang terlarang itu.”&lt;br /&gt;“Kamu mau ikut-ikutan mereka, menasehatiku? Kamu pikir mudah? Aku dah kecemplung, terjerumus, sulit keluarnya. Ni saja masih mending aku dah gak kayak dulu.”&lt;br /&gt;“Maaf Kang, hanya mengingatkan.”&lt;br /&gt;Ah ternyata mengingatkan tipe orang seperti Heri tak semudah yang ada di TV, di mana umumnya dengan nasehat saja mereka para jungkies itu bisa sadar dan menghentikan kebiasaan mengkonsumsi narkobanya.&lt;br /&gt;Semakin kita berusaha mengingatkan, semakin dia menjauh dari kita, maka akan semakin sulit kita menyadarkannya. Ah, harus punya trik nih, agar kata-kata kita masuk ke hatinya, dan mampu membuka mata hatinya.&lt;br /&gt;Tapi aku bukanlah orang cerdas yang mudah mencari trik dengan hanya melihat keadaan. Aku hanya mampu diam dan menggelengkan kepala ketika Heri datang ke sekolah telat dengan mata merah dan bau alkohol merebak ke mana-mana. Untunglah Heri cukup lihai menyembunyikan itu dari guru-guru dan siswa-siswanya.&lt;br /&gt;“Nduk, kamu malam ini ga ke mana-mana to?” Tanya Heri di suatu Ba’da Maghrib &lt;br /&gt;“Ke mana lho? Aku kan jarang keluar kalo ga da rencana dengan teman-teman PPL lainnya.”&lt;br /&gt;“Ya dah, sepeda motormu tak pinjem ya?”&lt;br /&gt;“Mau ke mana kang?”&lt;br /&gt;“Ke tempat Sambas, ni tadi aku ma Ari wes janji mau ke sana, eh sepedanya Ari ternyata kudu masuk bengkel, turun mesin.”&lt;br /&gt;“Jangan sampe malam lho kang.”&lt;br /&gt;“Kenapa?”&lt;br /&gt;“Lha, kan sini jam 9 mentok jam setengah sepuluh gerbangnya dah tutup.”&lt;br /&gt;“Ya nanti sepedanya tak inepin di kosku aja, besok pagi baru tak balikin.”&lt;br /&gt;“Yakin aman to kang, lha wonk ga da parkirnya gitu…Kalo ada apa-apa tanggung jawab lho…” kata-kataku sebenarnya bukan bermaksud menakut-nakutinya, tapi sepeda motor itu juga amanah dari ortuku, aku harus menjaganya.&lt;br /&gt;Keliatannya Heri membenarkan ucapanku, &lt;br /&gt;“Baiklah, nanti ga pulang malem-malem.”&lt;br /&gt;“OK, ni kunci motor ma STNK nya.”&lt;br /&gt;“Seeep….”&lt;br /&gt;Ah setidaknya ini jalan untuk sedikit mengerem kegiatan keluar malamnya Heri yang rawan menenggelamkan dia dalam dunianya ‘itu’. Semoga motor Ari tak kunjung selesai diperbaiki di bengkel, agar Heri sering pinjam motorku seperti tadi, lho????? He he….&lt;br /&gt;Hari ini ada undangan hajatan dari sekolah, tradisi sekolah ini memang setiap ajaran baru diadakan doa bersama demi kesuksesan dan kelancaran penyelenggaraan pembelajaran ke depannya, itu yang aku dengar.&lt;br /&gt;Kami datang menjelang maghrib, memang undangannya diharapkn datang sebelum maghrib, kita melaksanakan sholat Maghrib di mushola sekolah. Acara ini dihadiri oleh guru-guru, mahasiswa PPL dan pengurus OSIS. Tapi ketika masuk waktu Maghrib, pengurus OSIS satupun belum ada yang nongol. Guru-guru meminta salah seorang mahasiswa PPL untuk menjadi muadzin. Semua kelimpungan, gak ada yang mau (atau gak ada yang bisa ya?) dan mereka sepakat mengajukan Heri, entah apa alasan mereka, aku gak tau. Heri maju dengan ragu-ragu, &lt;br /&gt;“Aku hampir lupa bacaan adzan…” ucapnya lirih, &lt;br /&gt;“Sudah Kang, maju aja.” aku ngasih support.&lt;br /&gt;“Nanti gimana kalo di tengah-tengah aku lupa???”&lt;br /&gt;“Ya dah, nanti kalo lupa aku bisikin,”&lt;br /&gt;“Lha gimana caranya?”&lt;br /&gt;Fyuh, ni orang bener-bener lupa apa ga percaya diri ya???&lt;br /&gt;“Ya dah, kamu nanti adzannya dekat dengan kelambu itu, aku ada di balik kelambu. Nanti kalo kamu lupa tak bisikin…”&lt;br /&gt;“Bener ya?”&lt;br /&gt;“OK!!!” kataku mantap.&lt;br /&gt;Aku dengar suaranya ketika adzan bergetar, entah karena dia gugup demam panggung atau karena dia menghayati setiap lafadz-lafadz yang dibacanya. Yang jelas, ketika dia berhenti agak lama, aku membisikkan lafadz yang seharusnya dia baca, dan ia pun melanjutkan adzannya, entah karena mendengar suaraku atau dia ingat dengan sendirinya.&lt;br /&gt;Setelah Kang Heri ‘sukses’ mengumandangkan adzan, kami pun melakukan kegiatan biasa. Membaca pujian-pujian kepada Allah, iqamah yang dilakukan Heri dan alhamdulillah ini lancar. Sholat maghrib berjamaah, ternyata setelah itu dilakukan sholat tasbih dan sholat taubat dan doa-doa sampai masuk isya’, dan adzan isya’ dikumandangkan oleh seorang pengurus OSIS yang telah datang. &lt;br /&gt;Setelah sholat isya’ acara makan-makan. Prasmanan. Fyuh, namanya anak kos… ga sungkan-sungkan tuh imbuh….kesempatan...&lt;br /&gt;Masa-masa PPL hampir selesai, setelah masa ini maka disambut dengan datangnya bulan Ramadlan. Dua hari menjelang tanggal 1 ramadlan, sebagian besar mahasiswa PPL sudah cabut dari Magetan. Tinggal aku, Heri dan Ari juga belum cabut. &lt;br /&gt;“Waaaaah bingung nie, balik ke Surabaya pa pulang ke Brebes ya?” Tanya Heri.&lt;br /&gt;“Waaah, kalo aku enaknya menghasikan tanggal 1 Ramadlan dengan keluarga, Kang.” Kataku&lt;br /&gt;“Masalahnya… rumahku kan jauh, mana barang-barangku banyak lagi, dan itu semua barang aku bawa dari Surabaya.” Brebes memang perbatasan Jawa Tengah - Jawa Barat.&lt;br /&gt;“Ya dah, pulang ke Surabaya aja. Ortu pasti ngerti kok, toh lusa sebenarnya kul dah masuk kan? Cuma mungkin emang ada dispensasi buat mahasiswa PPL.”&lt;br /&gt;“Tapi…kalo aku pulang ke Surabaya, kemungkinan hari pertama puasa besok aku ga puasa…kalo hari pertama saja gak puasa maka hari-hari selanjutnya kemungkinan besar ga puasa sama sekali. Ah aku dah lama ga puasa…”&lt;br /&gt;Astaghfirullah, aku hampir lupa, kondisi Heri memang sudah jauh dari agamanya.&lt;br /&gt;“Kalo hari pertama Ramadlan di rumah aku pasti puasa, dan kemungkinan hari selanjutnyapun puasa, gak tau apa bolong-bolong pa penuh. Maklum Surabaya kan panas, banyak godaan lagi dari teman-teman, jarang yang ngingetin lagi.”&lt;br /&gt;“Ya dah, kamu pulang ke rumah Brebes aja, Kang.”&lt;br /&gt;“Tapi barang-barangku banyak sekali, aku kerepotan kalo harus bawa ke Brebes, nanti habis dari Brebes dibawa ke Surabaya lagi, fiuh gak mungkin lah…”&lt;br /&gt;Otakku berputar, apa akal? Aha…. Aku jadi ingat sesuatu…&lt;br /&gt;“Ya wes, sebagian barangmu titipin ke aku aja Kank. Aku kan nanti dijemput ma masku naek mobil, besok aku berangkat ke Surabaya naek travel. Barangku gak terlalu banyak kok, masih muat kalo ditambah.”&lt;br /&gt;“Beneeeer? Tapi banyak lho Nduk. Gitar, hitter, kado yang rencana mau aku kasih ke Bu Pras ga jadi, dan beberapa bajuku.”&lt;br /&gt;“Hmmm…. Ga masalah, masih muat kok insyaAllah…”&lt;br /&gt;“Ya tah,?”&lt;br /&gt;“Hu uh. Tapi janji lho pulang ke Brebes.”&lt;br /&gt;“Seeep.”&lt;br /&gt;Begitulah. Ternyata barang-barang kang Heri memang banyak, selain yang dititipkan kepadaku masih ada beberapa tas lagi. Aku hanya menatap heran, kok barangnya sebanyak itu. Aku saja tidak sebanyak itu…&lt;br /&gt;Malam pertama Ramadlan jam 2.30 aku miscall nomor hp Heri sampe diangkat, kemudian aku tutup. Cukup menunjukkan kalo dia terbangun. Rencana mau sms tapi dia sms dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Aq dah bgun nduk, ni lgi sahur ma klrga. insy nnti puasa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Amien kank, smoga nnti dan sterusnya di bln ramadlan ni n ramadlan slanjutnya km berpuasa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada balasan&lt;br /&gt;Amien. Kataku sendiri..&lt;br /&gt;Semoga Allah membukakan pintu hati Heri untuk kembali pada Nya. Amien...&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5353099398808708399-4953456855871265504?l=kumpkis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpkis.blogspot.com/feeds/4953456855871265504/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpkis.blogspot.com/2009/06/hari-pertama-puasa-kang-heri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5353099398808708399/posts/default/4953456855871265504'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5353099398808708399/posts/default/4953456855871265504'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpkis.blogspot.com/2009/06/hari-pertama-puasa-kang-heri.html' title='Hari Pertama Ramadlan Kang Heri'/><author><name>onyel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10894577879528821306</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/-OoMkJXiA8w4/TdkggQ5yQrI/AAAAAAAAAX4/Y8MHmB5sHMY/s1600/ca.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_v2C8rlcyfTI/SkInGQTw5iI/AAAAAAAAATc/QC0VKWTqAic/s72-c/PIC_0092.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5353099398808708399.post-8274929848425028832</id><published>2009-05-25T21:31:00.001-07:00</published><updated>2010-04-11T21:03:30.475-07:00</updated><title type='text'>MENDAMBAKAN SEORANG IKHWAN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_v2C8rlcyfTI/SjyTe5DtnKI/AAAAAAAAATE/mZ_9-ctPFdU/s1600-h/lady_muslimah.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 144px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_v2C8rlcyfTI/SjyTe5DtnKI/AAAAAAAAATE/mZ_9-ctPFdU/s400/lady_muslimah.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5349312616331058338" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;"Kapan nikah Mbak?" lagi-lagi Afif, adik angkatku itu menggodaku dengan pertanyaan itu. Ya ya, dia mempunyai seorang kakak kandung cewek yang seusiaku namun sudah menikah dan sekarang sudah dikarunia seorang putra yang lucu. Pantas dia sering menggodaku dengan pertanyaan itu.&lt;br /&gt;"Doain secepatnya Fif. Sebenarnya pengin juga segera menuhin sunnah Rasul ini."&lt;br /&gt;"Kata Mbak Ria, nikah itu enak lho Mbak...." kata Afif lagi, Ria adalah nama kakak kandungnya.&lt;br /&gt;"Ya ya ya,...."&lt;br /&gt;"Huahahaha...Mbak Eri pengin tuh...Jadi ngebet tuh..."&lt;br /&gt;Aku hanya menjulurkan lidah saja ke dia. Dia ketawa menggodaku.&lt;br /&gt;“Yah, doain aja ma Mas itu jadi ya? Hehehe…” &lt;br /&gt;Aku pernah cerita ma Afif kalo ada seorang cowok kakak kelasku dulu yang sering menghubungiku.&lt;br /&gt;“Amien.” Doa Afif tampak tulus dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Namun sebelum Ramadlan datang, telah tiba suatu kabar yang membuat hatiku nyeri. Cowok yang aku harapkan dan membuat harapanku melambung tinggi itu memberi kabar kalau dirinya akan bersanding dengan wanita lain, seorang akhwat begitu dia bilang dengan bangganya. InsyaAllah habis Lebaran pernikahan sederhana akan digelar, katanya. &lt;br /&gt;Seorang akhwat? Hmmmm tentu saja aku kalah jauh, aku aja masih hancur gini…batinku. Tidak salah memang dia memilih, tapi kenapa dulu ia begitu baik padaku? Kenapa ia sering menghubungiku? Hanya menganggap adikkah? Pantaskah? Apa aku begitu bodoh menyalahartikan kebaikannya padaku selama ini? Dia bukan apa-apaku, dia bukan kakak, bukan bapakku bukan saudaraku tapi dia memberi pehatiannya padaku, siapa wanita yang harapannya tidak melambung diperlakukan seperti itu?&lt;br /&gt;Namun kemudian dia tanpa beban mengatakan bahwa dia memilih wanita lain untuk bersanding dengannya…..&lt;br /&gt;Aku lemas seketika mendengar kabar itu. Dan Lagi-lagi Afif yang setia menemani dan menghiburku di Surabaya ini.&lt;br /&gt;“Sudahlah Mbak. Hikmah yang bisa diambil simple aja toh mbak, bahwa mas Iman bukan jodoh mbak.”&lt;br /&gt;“Ya, tapi perhatiannya itu selama ini….”&lt;br /&gt;“Sssst sudah, itulah cobaan bagi orang beriman. Cinta adalah godaan Mbak, tinggal bagaimana kita menyingkapinya. Apalagi kalo cinta tidak berpihak pada kita. ”&lt;br /&gt;Aku terdiam, ah Afif begitu bijaksana. Mungkin memang pergaulannya yang membuatnya bisa bicara seperti ini, entahlah kalau dia yang mengalami sendiri apakah dia akan bersikap seperti apa yang diucapkan atau tidak (ah, semoga dia tidak pernah mengalaminya). Tapi apa yang dikatakan itu bener dan tak ada salahnya aku renungi.&lt;br /&gt;“Mbak kudu tabah, come on, sekalian untuk menguji mental mbak kok ni. Buktikan lek mbak ni gak lemah…Mosok Mbak Eri yang aku kenal lincah, cerewet, pejuang selama ini keok…” kata Afif sambil membalikkan jempol tangannya ke arah bawah.&lt;br /&gt;“Jelek lu.” Aku memukul lembut kepalanya, tapi dia menghindar&lt;br /&gt;“Ih Mbah Eri yang jelek weksss.” Dia menjulurkan lidah seperti biasa.&lt;br /&gt;Ah, setidaknya ada Afif, yang bisa membuatku mampu tersenyum dan tertawa lagi, dia gak akan membiarkan aku sedih, apalagi jika berkepanjangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh Mbak, masih banyak kok cowok yang juauh lebih baik dari Mas Iman.”&lt;br /&gt;“Yayaya, aku tau…”&lt;br /&gt;Aku seperti teringat sesuatu.&lt;br /&gt;"Eh Fif, Cariin aku ikhwan aktivis temenmu duonk...."&lt;br /&gt;"Lha?"&lt;br /&gt;"Temen-temenmu dulu di Madiun kan banyak ikhwan aktivis, kenalin satu aja ke aku." kataku serius, Afif tau itu. Hanya saja dia gak nyangka aku bakal meminta itu padanya. Dan ia kelabakan menjawabnya...&lt;br /&gt;"Kalo itu...sulit mbak. Kalo ma senior aku ga banyak kenal dekat, paling kakak sepupuku, itupun sudah nikah...tapi...."&lt;br /&gt;"Kenapa?"&lt;br /&gt;"Biasanya para aktivis itu akan mencari akhwat sesama aktivis. Mereka dah ada Murabbi nya sendiri mbak."&lt;br /&gt;"Owh, jadi ga mungkin ya?" kataku lirih..&lt;br /&gt;"Ato mbak ikut aja kegiatan mereka, mengikuti kajian-kajian mereka."&lt;br /&gt;"Aku mengikuti kegiatan mereka untuk memperoleh seorang ikhwan? Ah, muna itu namanya Fif."&lt;br /&gt;"Bukan Mbak, itu sebagai Sarana untuk perbaikan diri Mbak. Alhamdulillah kalo Allah benar-benar memberikan seorang Ikhwan untuk menjadi suami Mbak. Yang penting sekarang perbaikan diri Mbak dulu. Meningkatkan kualitas diri dengan semakin mendekatkan diri kepada Allah melalui kegiatan-kegiatan itu."&lt;br /&gt;Aku memandang takjub pada Afif. Ah, Remaja ini kadang pola pikirnya lebih dewasa dari umurnya, lebih dewasa dari aku yang lebih tua hampir lima tahun dari dia. Kalo saja dia lebih tua dari aku atau sudah siap menikah aku minta dia untuk menikahiku, hehehe...&lt;br /&gt;“Tapi itulah Fif, aku ini orang yang sangat lemah. Kalo gak ada yang ngajak ke arah kebaikan itu jarang mau melakukannya. Aku masih rentan dengan godaan duniawi.”&lt;br /&gt;“Mbak ikut aja kajian-kajian di kampus kan ada?”&lt;br /&gt;“Aku sekarang jarang ke kampus, soalnya kan tinggal wisuda.”&lt;br /&gt;“Eh Mbak minat bener tah ikut kajian-kajian tadi?”&lt;br /&gt;“Boleh-boleh.”&lt;br /&gt;“Bukan Cuma karena agar mendapatkan calon suami ikhwan to?”&lt;br /&gt;“Hmmmm, insyaAllah mbak niatkan memperbaiki kualitas diri.”&lt;br /&gt;“Amin. Kakak sepupuku mempunyai link-link orang-orang yang mengurusi kajian-kajian seperti itu. Kalo mbak mau insyaAllah aku telpon masku, nanti biar masku itu bisa ngasih semacam surat rekomendasi atau surat pemberitahuan ke mereka bahwa ada member baru, biar mbak nanti ga merasa asing ketika pertama ikut kajian-kajian itu. InsyaAllah mereka welcome kok ma new member, bahkan mereka akan membimbing dan memberi tahu apa yang mbak belum tahu dengan senang hati.”&lt;br /&gt;“Tapi aku gak tau setelah lulus nanti bertahan di Surabaya atau pulang ke kampung halaman.”&lt;br /&gt;“Gampang, masku punya link di mana-mana kok…”&lt;br /&gt;Aku tersenyum, “Sip.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kemudian Afif mulai masuk kuliah, dia mulai sibuk dengan tugas-tugasnya, kami jadi jarang berhubungan. Awal masuk dia masih sempat main ke kosku, &lt;br /&gt;“Maaf mbak, lom sempat ngubungin kakakku, lagi sibuk nih aku. Masak hari pertama masuk kul dah dikasih tugas….”&lt;br /&gt;Hanya itu. Kunjungan yang singkat sehingga kami hanya sempat ngobrol dikit dan dengan alasan mengeerjakan tugas dia pamit. Sejak itu Afif jadi jarang sekali bertemu dengan aku, tapi masih kadang telepon atau sms. &lt;br /&gt;Dan semakin lama, aku kehilangan sosok Afif. Kudengar kabar terakhir dia kerja sosial di sebuah yayasan sosial mengajar anak nelayan, selain itu dia juga kerja sampingan, dan dia menghilang. Pun saat wisudaku dia tidak bisa datang dengan alas an karena semalam mengerjakan tugas dan siangnya ada kuliah. Aku berusaha mengerti keadaannya ditambah dengan fisiknya yang lemah. &lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Malam itu habis Lebaran dua hari menjelang wisudaku, seorang temanku seperjuangan masa PPL (praktek mengajar) dulu memberi tahu bahwa ada acara ngumpul reunion sekaligus perpisahan teman-teman PPL di Surabaya. Maklum satu semester lebih kami gak ngumpul dan sebentar lagi sebagian dari kami akan wisuda, yang entah selanjutnya akan kembali ke kampong halaman atau bertahan di Surabaya.&lt;br /&gt;Di sana kami ngumpul lagi, 18 orang dulu teman seperjuangan dari berbagai jurusan dan berbagai fakultas. 10 cewek dan 8 cowok. Aku banyak ngobrol dengan Agnes, gadis paling cantik dari kelompok ini:&lt;br /&gt;“Gimana kabar Afif?”&lt;br /&gt;“Wah, dia sibuk ma Kuliahnya, kami jarang ketemu sekarang.”&lt;br /&gt;“Wo…, salam aja kalo ketemu dia.”&lt;br /&gt;“InsyaAllah aku sampaikan.”&lt;br /&gt;“Eh, kamu masih inget Pak Iman salah seorang guru di SMADA dulu?”&lt;br /&gt;“Hm???” aku mencoba mengingat-ingat&lt;br /&gt;“Yang dulu promosiin saudaranya yang lagi cari calon istri.”&lt;br /&gt;“Owh.” &lt;br /&gt;Aku jadi inget, ketika PPL di SMADA dulu, ada seorang Guru laki-laki bernama Pak Imam mengatakan bahwa dia memiliki seorang saudara laki-laki di Madiun. Dia seorang ikhwan aktivis, baik agamanya. Dia sedang mencari seorang calon istri, yang sholehah atau bisa diajak ke arah kebaikan, sabar dan pengertian. Beliau meminta biodata beserta foto-foto para mahasiswi PPL. Kata beliau akan disampaikan kepada saudaranya, siapa tau ada yang dia minati. Hm…bukannya orang seperti ini yang aku cari, hik hik…&lt;br /&gt;Namun besoknya beliau tidak pernah membahas itu lagi, apa yang dikatakan beliau kemarin seakan hilang tanpa bekas terbawa angin. Ah, aku mah gak terlalu mikirin. Aku mungkin gak akan ingat kejadian itu kalo Agnes tidak mengatakannya.&lt;br /&gt;“Emangnya napa ma beliau?”&lt;br /&gt;“Ya ga pa-pa ma beliau. Aku dulu lom cerita ya? Beliau minta foto ma biodataku buat adiknya yang ikhwan itu. Aku ga enak, ya wez aku kasih. Cowok itu kemudian menghubungiku, sms maupun telpon. Sampe sekarang.”&lt;br /&gt;“Owh….”&lt;br /&gt;“Kamu dah ketemu orangnya?” &lt;br /&gt;“Belum, dia-nya masih sibuk kerja, akunya juga ngerjain skripsi kan? Lagi pula aku sebenarnya lebih berat ke Nanang.” &lt;br /&gt;Nanang itu cowok Agnes. &lt;br /&gt;“Selama ini aku jarang balas smsnya. Aku jarang menghubunginya, tapi dia yang menghubungiku, sekedar tanyain kabar, ngingetin Sholat, sahur.”&lt;br /&gt;“Weh????” ekspresiku dengan nada kagum, tiba-tiba ada iri menyelinap di hati.&lt;br /&gt;“Kamu mau tah tak kenalin ke dia, bukannya kamu mencari orang seperti itu? Aku lihat dia baik Er, cocok seperti yang kamu cari.”&lt;br /&gt;“Ah, kmu ni ada-ada saja Nes.”&lt;br /&gt;“Aku serius, kamu mau tah? Tak kasih tau no kamu ke dia ya?”&lt;br /&gt;“Ga usah, makasih. Dia menginginkanmu Nes, ‘perantara’nya juga menginginkan menghubungkan dia dengan kamu, bukan dengan aku.”&lt;br /&gt;“Tapi aku dah ada Nanang, Yan. Dia sayang ma aku, begitupun aku. Kami dah jalan lama, dan aku ga ingin hubungan ini rusak gara-gara ada dia. Dia dah tak kasih tau kalo aku punya pacar, tapi masih saja menghubungiku.”&lt;br /&gt;“Kamu dah dewasa kok Nes, wez bisa berfikir untuk menentukan sikap. Hanya, menurutku kamu sangat beruntung ada seorang ikhwan yang menginginkanmu. Sebenarnya kalo kamu bisa melihat ke depan, insyaAllah dia akan membawa kebaikan padamu.”&lt;br /&gt;“Masa depanku dengan Nanang, Er.” Agnes tak mau kalah.&lt;br /&gt;Ah Ukh, kalo aku jadi kamu, aku akan menerima dengan tangan terbuka kedatangan Sang Ikhwan. &lt;br /&gt;Entahlah, apakah kelak aku mendapatkan seorang ikhwan yang aku inginkan. Apakah akan ada seorang ikhwan yang mau berdakwah untuk membimbingku menuju ridla-Mu, huAllahua’lam…. Aku hanya menjalani hidup apa adanya, berusaha memperbaiki diri walo usaha ini rasanya begitu lambat berjalan tanpa ada seorang yang menuntunku, karena aku begitu lemah…&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5353099398808708399-8274929848425028832?l=kumpkis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpkis.blogspot.com/feeds/8274929848425028832/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpkis.blogspot.com/2009/05/mendambakan-seorang-ikhwan_25.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5353099398808708399/posts/default/8274929848425028832'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5353099398808708399/posts/default/8274929848425028832'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpkis.blogspot.com/2009/05/mendambakan-seorang-ikhwan_25.html' title='MENDAMBAKAN SEORANG IKHWAN'/><author><name>onyel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10894577879528821306</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/-OoMkJXiA8w4/TdkggQ5yQrI/AAAAAAAAAX4/Y8MHmB5sHMY/s1600/ca.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_v2C8rlcyfTI/SjyTe5DtnKI/AAAAAAAAATE/mZ_9-ctPFdU/s72-c/lady_muslimah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5353099398808708399.post-3517708457177860078</id><published>2009-05-18T19:22:00.000-07:00</published><updated>2010-04-11T21:06:17.106-07:00</updated><title type='text'>SMS Merah Jambu</title><content type='html'>Hm... iseng iseng aku googling-googling mengenai bagaimana sebenarnya 'Pacaran Islami' itu...., dan menenemukan sebuah artikel sederhana dengan judul '&lt;a href="http://baitijannati.wordpress.com/2007/07/11/sms-merah-muda/"&gt;sms merah  muda&lt;/a&gt;'. Hm...sebuah artkel yang membuat mataku terbuka sekaligus mengingatkan aku pada kenangan satu tahun yang lalu. Ketika ada seorang cowok yang sering sms padanya, bukan hanya sms saja, bahkan telpon ato maen ke tempatku. &lt;br /&gt;Hmmm, mungkin aku ga akan ke-GR-an waktu itu kalo aku gak tau sifat cowok itu. Cowok yang menurutku baik secara agama, tidak suka menghabiskan waktu, uang atau tenaga begitu saja untuk sesuatu yang menurutnya tidak berguna. Tidak suka iseng-iseng sms-in cewek-cewek kalo lagi suntuk dan lain-lain lah... Itu yang aku tau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Asslmkum. Gi ngapa dik? Kok ga pernah sms, sombong ni maunya di sms mulu, he...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;wa'alaikumsalam.&lt;br /&gt;af1 ni, bknnya smbong, tapi ni masih pusink mikir skripsi nie, hehehe&lt;br /&gt;ni lagi ngerjain..&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;sampe mana skripsinya?dah penelitian..?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;blm mas, proposal lom kelar2, ga tau ni, dosen super sibuk, n proposalku disalahkan mulu...capek aq, sementara ujian sudah terjdwl mulai 2 minggu lg. Kl aq lom dpt ACC dr dosen mka ga akn pnlitian, lom lg nnti analisis datanya...embuh, psimis aq mas...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku yang lugu menjadi menceritakan masalahku. Jujur saat itu aku bener-bener stress menghadapi skripsiku yang tak kunjung selesainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sabar dik, usaha terus, tawakal. Kmu mmprthankan eksistensi 'hmpunan' sampai slma 2 th ni sj bs, msa g bs ngdapi ni.Aq yakin kmu bisa kok, aq hny bs bntu do'a&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Entahlah ada kesejukan dalam hati membaca sms itu. Ah selain kluarga dan Rahmad adik angkatku, dy adalah salah satu orang yang selalu kasih aku &lt;span style="font-style:italic;"&gt;support &lt;/span&gt;dalam setiap langkahku. Aku berjanji dalam diri sendiri untuk bangkit lagi, berusaha dan berusaha...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya perjuanganku memang berhasil, dengan perjuangan hari-hari hanya tidur tak lebih dari 2 jam, menunggu dosen yang belum ada kepastian bersedia atau tidak memberi bimbingan skripsi, dan kalopun bersedia mungkin hanya bisa memberi bimbingan tak lebih dari  lima menit, itu pun dengan hasil skripsiku penuh coretan dan tanda tanya merah, hasil kreasi dosen pembimbingku. Setelah ada izin penelitian, kemudian proses analisis data 4 minggu kemudian, dosenku meng-ACC skripsiku untuk maju ke ujian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan  penuh semangat aku mengkopi skripsiku sebanyak tiga kali, tak peduli seharian aku belum tidur blaz, jangankan tidur, untuk sejenakpun aku tidak bisa beristirahat dengan nyaman. HAri itu juga aku mendaftarkan diri ujian skripsi dan besoknya jadwal ujian skripsiku muncul. Antara cemas, berdebar-debar, dan badan lemas kurang tidur dan energi terkuras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eh ada telpon, dari cowok itu.&lt;br /&gt;"Assalamu'alaikum..."&lt;br /&gt;"Wa'alaikumsalam."&lt;br /&gt;"gimana Kabarnya?" &lt;br /&gt;Ah, basa basi...&lt;br /&gt;"Halah sampeyan ki, bukannya kemaren dah sms tanya kabar," Jawabku melumerkan suasana, lebih tepatnya suasana hatiku yang tiba-tiba jadi ga karuan.&lt;br /&gt;"hehe...Gimana Skripsinya?"&lt;br /&gt;"Alhamdulillah dah di ACC dosen buat ujian. Tapi sekarang malah stress berat ni menunggu detik-detik ujian."&lt;br /&gt;"Oh ya? Alhamdulillah. Kapan ujianmu?"&lt;br /&gt;"InsyaAllah minggu depan."&lt;br /&gt;"Pasti bisa kok, pasti lulus, dan semoga dapat nilai A, aku yakin kamu bisa..."&lt;br /&gt;"Amin..."&lt;br /&gt;"Ya sip, aku doain dari sini ya?"&lt;br /&gt;"Makasih..."&lt;br /&gt;"Eh, lagi ngapain nieh?"&lt;br /&gt;"lagi jalan-jalan di HITECH mall mas, nganter temen."&lt;br /&gt;"Owh...wah bisa jalan-jalan ni..."&lt;br /&gt;"Ah biasa aja..."&lt;br /&gt;Obrolan menjadi berlanjut kemana-mana. Dia tak peduli posisiku lagi jalan-jalan di mall, dan aku juga ga peduli pada temanku menunggu lama dengan gelisahnya. Jahat sekali ya aku....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam sebelum aku ujian Skripsi&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Aslmkum dik? Gimana? pst berdebar2. Jgn lp qiymul lail, mnt kpd Allah kmudhan dan klncaran. jgn lp jg baca srt thoha sebelum ujian dimulai.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ya mas, syukron.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Good luck dik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali kesejukan menerpa hatiku, Aku menjadi lebih siap menjalani hari esok, walau tetap saja malam ini mata sulit terpejam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, aku bisa melewati ujian dengan mayan lancar walo ga sukses-sukses amat. Yang penting minimal nilai B aku kantongi, sayangnya dosenku saat itu belum bisa memberitahukan nilaiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah proses revisi-revisi akhirnya aku memperoleh izin untuk mendaftar wisuda. Mengurusi pendaftaran yudisium, tinggal menunggu hari yudisiumnya tiba dan diteruskan dengan wisuda, momen paling ditunggu oleh mahasiswa. Aku menikmati hari-hariku di Surabaya, tetap kasih les private, organisasi kerja sampingan. Semua lebih leluasa aku jalani tanpa beban skripsi, paling yang ada dipikiranku saat itu akan kemanakah aku setelah lulus. Mencari kerja di Surabaya? tapi ayah ibu menginginkan aku pulang ke kampung halaman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hape sony ericsson ku berbunyi, dari cowok itu lagi... hatiku berbunga-bunga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Assalamu'alaikum..."&lt;br /&gt;"Wa'alaikumsalam."&lt;br /&gt;"Wah lega nie yang tinggal nunggu wisuda..." suara dari seberang...&lt;br /&gt;"Lega apanya, skrg ni malah bingung. Bingung, takut menambah angka pengangguran di Indonesia, hehe..."&lt;br /&gt;"Bismillah..."&lt;br /&gt;"Yah, Bismillah."&lt;br /&gt;"Eh, aku besok ke Surabaya lho...."&lt;br /&gt;"Oh ya? Ngapain?"&lt;br /&gt;"Temenku nikah...ya siapa tau bentar lagi nyusul, hehe…."&lt;br /&gt;“Oh ya? Mampir ga mas?”&lt;br /&gt;“Mampir ke mana?” tanyanya, gak tau emang ga tau maksudku ato pura-pura aja. &lt;br /&gt;“Ya, ke markas kita geto, pokoknya mampir….hehe”&lt;br /&gt;“InsyaAllah, aku usahain.” Katanya.&lt;br /&gt;Tiba-tiba bayangan masa depan muncul lagi, apakah begitu aku lulus nanti mas Iman akan melamarku? Apa yang dia tunggu ya???? Rasanya aku dah ga sabar lulus, segera menikah yang harapanku dengan mas Iman, hmmmm jalan-jalan berdua akan lebih indah lebih diridlahi Allah… Selama ini kami gak pernah keluar berdua, justru itu yang aku suka dari mas iman, dia begitu menjaga sikapnya dan menghargai aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmmm, wisuda masih dua minggu lagi. Dan lagi-lagi aku terima telpon dari mas Iman, aku senang bukan kepalang. Semoga dia bilang dia akan ke Surabaya di hari wisudaku, menawarkan diri menjadi PW (pendamping wisuda) ku…  indahnya…&lt;br /&gt;“assalamu’alaikum..” Salamku semangat. Hati penuh harap.&lt;br /&gt;“wa’alaikumsalam. Waduh yang mau wisuda…”&lt;br /&gt;“hehe…”&lt;br /&gt;“Kapan pulang dik? Sebelum wisuda pulang ga?”&lt;br /&gt;“InsyaAllah mas, tapi paling Cuma satu hari. Tuh ngurusin persyaratan buat pendaftaran tes CPNS.” &lt;br /&gt;Tes CPNS rencananya akan di adakan desember ini, dan pendaftarannya mulai tanggal 10 Oktober ini.&lt;br /&gt;“Oh iya…ada yang mau tak kasihkan nih, bisa ketemu ga ya?”&lt;br /&gt;hatiku berdebar-debar tak karuan…&lt;br /&gt;“InsyaAllah…”&lt;br /&gt;“Emang apa sieh?”&lt;br /&gt;“Undangan…”&lt;br /&gt;“Undangan sapa?”&lt;br /&gt;“Pernikahanku, insyaAllah tanggal 22 besok…”&lt;br /&gt;“Mas mau nikah? Ma sapa? Kok ga pernah cerita?” hatiku hancur berkeping-keping…&lt;br /&gt;“Ada, seorang akhwat, jilbaber dik…ga nyangka ya, aku yang ancur gini bisa dapat seorang akhwat, hehehe…”&lt;br /&gt;“Owh,…” kataku sambil menenangkan hatiku, “Aku kenal ga mas?”&lt;br /&gt;“Wah, gat au ya… dia bukan alumni universitas yang sama dengan kita sih, tapi dia dulu sekolah di SMA yang sama dengan kamu, kakak kelas kamu dua tahun. Ga tau kamu kenal apa tidak…”&lt;br /&gt;“ya….” Jawabku sekenanya.&lt;br /&gt;“Ni pestanya sederhana kok, Cuma keluarga dekat aja, paling yang aku undang kamu ma indri yang dah kayak adikku sendiri, juga hendra. Kalian kan wez seperti sodara bagi aku…”&lt;br /&gt;“ya…”&lt;br /&gt;Jadi selama ini dia menganggapku adik, gak lebih? Mbak Indri yang dia bilang sudah seperti adiknya juga, setauku tak sesering itu dia hubungi seperti aku. &lt;br /&gt;Salahkah aku bila menyalah artikan kebaikannya. Salahkah aku jika menganggap perhatiannya itu istimewa. Salahkah aku begitu berharap padanya… dan wisuda ku yang aku harapkan menjadi sebuah momen paling special dalam hidupku, kini menjadi begitu terasa biasa… alhamdulillah ada adik-adikku yang selalu kasih support dan selalu membawa keceriaan dalam hidupku, tapi mereka tidak ada yang tau perasaanku saat itu kecuali afif…&lt;br /&gt;Ah, rupanya aku benar-benar terkena sms merah muda. Astagfirullah, semoga ga da muslimah-muslimah lain yang terkena virus merah muda atau merah jambu itu. Dan semua itu menjadi pelajaran buat aku sendiri untuk melangkah kelak, semoga Allah melindungiku dari segala godaan duniawi, semoga Allah memberi kekuatan padaku untuk menjalani hari esok…&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_v2C8rlcyfTI/SjoWjj_F_CI/AAAAAAAAAS8/zWeNmzDU8cY/s1600-h/untitled.bmp"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 204px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_v2C8rlcyfTI/SjoWjj_F_CI/AAAAAAAAAS8/zWeNmzDU8cY/s400/untitled.bmp" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5348612307666992162" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ini juga menjadi pelajaran bagi muslimah-muslimah lain untuk berhati-hati pada sms merah jambu atau merah muda, terserahlah bagaimana menyebutnya, dan juga menjadi peringatan muslimin-muslimin lain untuk berhati-hati bersikap terhadap muslimah. Muslimah begitu lemah akh, sedikit kata halus atau perhatian dari antum, bisa bejuta rasa dalam hatinya. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5353099398808708399-3517708457177860078?l=kumpkis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpkis.blogspot.com/feeds/3517708457177860078/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpkis.blogspot.com/2009/05/sms-merah-jambu.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5353099398808708399/posts/default/3517708457177860078'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5353099398808708399/posts/default/3517708457177860078'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpkis.blogspot.com/2009/05/sms-merah-jambu.html' title='SMS Merah Jambu'/><author><name>onyel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10894577879528821306</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/-OoMkJXiA8w4/TdkggQ5yQrI/AAAAAAAAAX4/Y8MHmB5sHMY/s1600/ca.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_v2C8rlcyfTI/SjoWjj_F_CI/AAAAAAAAAS8/zWeNmzDU8cY/s72-c/untitled.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5353099398808708399.post-298644543035881492</id><published>2009-04-22T08:16:00.001-07:00</published><updated>2010-04-11T21:04:45.493-07:00</updated><title type='text'>GURU-GURU KECILKU</title><content type='html'>Aku seperti hidup dalam dunia sinetron setelah aku berkomunikasi lagi dengan seorang siswa dari sekolah tempat aku praktek mengajar dulu di Madiun. Awalnya Komunikasi kami hanya lewat friendster dan YM (yahoo messenger). Kami sudah seperti kakak-adik. Kami saling menceritakan masalah masing-masing. Dan aku begitu shock ketika mengetahui ternyata remaja cowok yang usianya lebih muda 5 tahun dari aku itu ternyata tengah mengidap penyakit leukimia. LEUKIMIA???penyakit kanker darah. Dan dari hasil pemeriksaan dokter ketika ia drop terakhir, dokter memvonis usianya tinggal 3 bulan lagi, yaitu akhir tahun ini, bila tidak dilakukan usaha medis, yaitu operasi sumsum tulang belakang, itu bisa dilakukan paling dekat di Singapura yang tentu saja membutuhkan dana yang tidak sedikit. Sedangkan orang tua nya hanya pegawai biasa, mana mungkin mampu membiayainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan begitu dia ke Surabaya untuk pendaftaran Perguruan Tinggi, kami bertemu secara langsung. Hatiku begitu iba melihatnya, namun Rahmat bukan tipe remaja yg tampak lemah dan senang dikasihani. Ia menceritakan semua kepada Aku karena dia percaya padaku, dan ia memintaku merahasiakan penyakitnya. Dia sering maen ke tempatku menghabiskan waktu bersama, sharing-sharing masalah hidup maupun agama. &lt;br /&gt;Dia selalu berusaha menciptakan suasana yang penuh canda jika ngobrol, seolah dia remaja normal pada umumnya. Dia sering mengolok-olokku sebagai bentuk keakraban kami, dan aku sama sekali gak tersinggung.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mbak Yanti jelek, gak pantes tuh jadi guru, apalagi guruku. Lha guru ma muridnya gedhean muridnya, weee.!!" begitulah ia sering mengolok fisikku yang kecil.&lt;br /&gt;Yang aku kagumi dari Rahmat adalah selain pengetahuannya akan Islam sangat dalam, kadang dia bersikap dewasa dari umurnya, dia selalu memberi semangat kepadaku ketika aku sempat down gara-gara skripsiku terganjal DP (dosen pembimbing) yang killer dan supersibuk, sehingga aku terancam tidak bisa menyelesaikan kuliahku tepat waktu, belum lagi . &lt;br /&gt;“Eh mbak, Tau ga? Aku punya penggemar berat lho...”&lt;br /&gt;“Oh ya?”&lt;br /&gt;“Ya, orangnya cantik ada darah Jepang, jelek-jelek gini kok ya ada cewek cantik yang naksir.”&lt;br /&gt;“Ehem...”&lt;br /&gt;“Dia putrinya dokter yang ngerawat sakitku mbak, kami kenal sejak kecil. Mbak liat aja di fs-nya.  Namanya Vi imoetz. Oh ya, kemarin dia baru kirim comment ke aku.”&lt;br /&gt;Klik klik aku membuka profile friendster-nya Rahmat. Di urutan pertama comments-nya ada comment dari Vie. Komen yang dia berikan kepada Rahmat berisi pemberian semangat dan ungkapan kerinduan.&lt;br /&gt;Klik. Aku membuka profile cewek tersebut. Hm...terlihat jelas primary fotonya mengenakan tank top, sehingga memperlihatkan kulitnya yang kuning langsat, matanya sipit, wajah-wajah oriental.&lt;br /&gt;“Cantik.” Hanya itu yang aku ucapkan.&lt;br /&gt;“Tapi seperti itulah dia...” Aku hanya mengangguk menunjukkan bahwa aku paham maksudnya.&lt;br /&gt;“Aku tuh sayang pada dia karena dia seperti adik aku sendiri mbak. Aku kasihan ma dia, dia menderita kanker otak stadium empat. Ayahnya walau seorang dokter tidak mampu membantu menyembuhkannya.”&lt;br /&gt;Aku terlonjak&lt;br /&gt;“Dia tau kalo dia menderita penyakit itu?”&lt;br /&gt;“Ya...”&lt;br /&gt;Rahmat kemudian bercerita panjang lebar soal kehidupan Vi.&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Aku login ke fs. Di home kudapati new friend request, new comment. Hei, Vie imoetz ngeadd aku, comment dari vivi juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hai, salam kenal....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Itu bunyi comment-nya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eh di YM da yang nge add juga, ID nya vivi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vie: Askum&lt;br /&gt;Aku :Wa’alaikumsalam&lt;br /&gt;Vie: Halu mbak, salam kenal. Saya Vi, tmannya Rahmat dari Madiun. Mbak siapa?&lt;br /&gt;Aku : halo vivi, aku yanti temene Rahmat juga.&lt;br /&gt;Vie : Kok kenal Rahmat?&lt;br /&gt;Aku : dulu aku pernah praktek mengajar di sekolah Rahmat...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami mengobrol banyak di chat pertama itu, obrolan kami dari awal perkenalan aku ma Rahmat sampe penyakit Rahmat dan sampai kami merubah topik pembicaraan bukan mengenai Rahmat lagi. Hm... dia asyik juga di ajak ngobrol. Beberapa kali kami ngobrol di YM.&lt;br /&gt;Vie: mbak Yanti lucu juga ya, seru. Pantes Rahmat sering crita ttg mbak. Jadi pgn ketmu mbak ni. Liburan depan insyaallah vi mo ikut Rahmat k sby, kalo diijinin papa. Mau maen ke tmpate mbak.&lt;br /&gt;Aku : ya vi, silahkan.&lt;br /&gt;Vie : Tau ga mbak, vi cemburu lho liat Rahmat srg crita soal mbak. Klo ma mbak, Rahmat srg crita soal vi ga?&lt;br /&gt;Aku: Hm... Rahmat selalu nyeritain temen2nya, termasuk vi&lt;br /&gt;Vie : Owh&lt;br /&gt;Aku : &lt;br /&gt;Vie : Rahmat juga crita ke mbak soal kondisi vi sebenarnya?&lt;br /&gt;Maksudnya?&lt;br /&gt;Vie : Ya sakit vi...&lt;br /&gt;Aku : Owh&lt;br /&gt;Vie :Dah tau ya mbak?&lt;br /&gt;Aku: &lt;br /&gt;Vie : Ga papa kok mbak, alhamdulillah kondisi vi sekarang sudah membaik&lt;br /&gt;Aku : Oh, alhamdulillah kalo gitu&lt;br /&gt;Vie : Mbak, menurut mbak Rahmat tu baik ga?&lt;br /&gt;mbak, vi sayang bgt ma Rahmat. Yang vi suka dari Rahmat dy itu baik. Dy yang selalu ngasih vi semangat, membuat vi ceria. Lima bulan yang lalu ketika vi koma, dy yg sllu nungguin vi. Yah, vi emang ga pnya sodara dekat lg. Papa dokter, jadi ga bisa terus nungguin vi n vi anak tunggal, mama dah meninggal ketika melahirkan vi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aq membaca pesan dari vi dengan perasaan masygul. Dia anak yang malang. Aku sudah mendengar kisah tentang dirinya dari Rahmat.&lt;br /&gt;Vie :Ketika vi bangun, yang vi liat Rahmat lg nungguin vi dg teruz berdzikir. Lalu Rahmat terus  ngasih support sampe vi pulih kmbali dan bisa skul.  Sejak itu vi jatuh cinta ma Rahmat dan berjanji akan mengabdi padanya.&lt;br /&gt;Aku: Oh ya? &lt;br /&gt;Hatiku takjub&lt;br /&gt;Vie : Tapi mbak, Rahmat selalu menghindar kalo vi bicara masalah itu. Vi jd malu ndiri ma Rahmat.&lt;br /&gt;Aku : Vi, mengertilah. Kmu tau ndiri Rahmat gimana, dy muslim yag taat kan, dan hdpnya selalu mengikuti syari’at Islam. Dy tau bagaimana Islam mengatur pergaulan... dan saat ini kondisi kalian belum waktunya ke arah situ. Percayalah, kalo kalian dah sama2 dwsa dan klo Allah menakdirkan jodoh, insyaAllah klian akan bersama.&lt;br /&gt;Vie : Owh gitu ya mbak?pantes Rahmat seneng bgt crita ttg mbak, selain lucu mbak juga sholeha&lt;br /&gt;Idungku kembang kempis, dalam hati aku mengaminkan pesan Vivi&lt;br /&gt;Aku : Ga sebegitu kale vi, malah Rahmat itu masih sering ngritik aku soal penampilan, pergaulan. Mbak juga lom baek kok,tapi insyaAllah pengin memperbaiki diri.&lt;br /&gt;Vie : Mbak, vi juga pengin makin mendekatkan diri ma Allag, vi pengin berjilbab kayak mbak, bantuin vi ya mbak..&lt;br /&gt;Aku : insyaAllah Vi, kita saling mengingatkan.&lt;br /&gt;.................&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rahmat pulang ke madiun, hari pertama di rumah dia belum OL di YM, tumben... aku sms juga ga dibalez, mungkin dia lagi kehabisan pulsa.&lt;br /&gt;Besoknya malam dia akhirnya OL juga.&lt;br /&gt;Askum &lt;br /&gt;Sapanya, lha kok bahsanya beda, biasanya dia salam pake kata asslm&lt;br /&gt;Aku : Wa’alaikumsalam&lt;br /&gt;Mbak, ni vi. Rahmat lg drop mbak, dy lom bangun, masih menggunakan alat bantu oksigen &lt;br /&gt;Aku : Ha? Aq terlonjak&lt;br /&gt;Vie :Ya, kmrn plg dr sby dy lgsg drop. Ortunya sedang dinas di luar kota, kemarin mlm adiknya telp papa, dan kmi langsung menjmputnya. &lt;br /&gt;Aku : Astaghfirullah, bagaimna keadaannya skrg?&lt;br /&gt;Vie : Kata papa pnyakitnya makin parah, kankernya memasuki stadium lanjut. Sempat terjadi pembengkakan kelenjar limfa. Alhamdulillah kemarin kami segera menjemputnya dan papa segera menanganinya, jadi tidak sampai parah. Kondisinya sudah membaik skrg, tapi dy lom bangun.&lt;br /&gt;Aku : Alhamdulillah.. &lt;br /&gt;Aku agak lega&lt;br /&gt;Vie : Mbak Rahmat bangun.&lt;br /&gt;Aku : Oh ya? &lt;br /&gt;Ada sedikit kelegaan lagi&lt;br /&gt;Vie :Dy pengin c8 ma mbak&lt;br /&gt;Aku : Lho ga usah, biarkan dy istrht.&lt;br /&gt;Rahmat: Halo asslm mbak jelek&lt;br /&gt;Aku : Rahmat?&lt;br /&gt;Rahmat: Lgi ngomongin aq ya?&lt;br /&gt;Aku : Kamu ga pa pa to le?&lt;br /&gt;Rahmat: Dah membaik kok mbak, mbak ga usah khawatir&lt;br /&gt;Aku : Ya, alhamdulillah kalo gt&lt;br /&gt;Rahmat: Mbak...&lt;br /&gt;Aku : dalem?&lt;br /&gt;Rahmat: Aq brhutang nyawa ma vi mbak, tadi darahku smpt drop, aku butuh donor utk tetap brthan. Dan vi mendonorkn drhnya. Klo vi ga donorin darahny ga tau bagaimna aq skrg.&lt;br /&gt;Aku : Subhanallah&lt;br /&gt;Rahmat: Aq ga tau gmna vi nyakinin papany buat ngijinin donorin drahnya. Pdhl kndisi tbhnya spt tu&lt;br /&gt;Aku diam bingung mau menulis apa. Kagum, kaget terenyuh menjadi satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selang dua hari Rahmat sudah balik ke Surabaya. Dia terlihat bugar tersenyum renyah ketika bertemu denganku, seolah sebelumnya tidak terjadi apa-apa dengan dia, seolah sebelumnya maut tidak pernah mengancamnya... dan seperti biasa dia mengolok-olokku.&lt;br /&gt;“Ah, biasa kok mbak. Kalo aku lagi kambuh gak kerasa sakit blas kok mbak, paling cuma lemes ma berkunang-kunang aja, kemudian dunia menjadi gelap, hehehehe...” Jawabnya enteng ketika aku menanyakan soal kekambuhannya kemarin.&lt;br /&gt;“Kamu ini, sakit kok buat main-main???”&lt;br /&gt;Dia hanya tersenyum. &lt;br /&gt;“Oh ya mbak, laen kali aku temuin ma Vi, kalo kita sama-sama pulang ato Vi katanya mau ikut aku ke Surabaya.”&lt;br /&gt;“Oh ya sip.” Jawabku mantap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua minggu kemudian Rahmat mudik lagi. Biasa, jadwal cek ke dokter dua minggu sekali.&lt;br /&gt;Vie : Askum &lt;br /&gt;Sapa Vi di YM ketika seperti biasa mereka sama-sama On Line di Yahoo Messenger.&lt;br /&gt;Aku : Wa’alaikumsalam&lt;br /&gt;Vie: Mbak Rahmat di sini lho...&lt;br /&gt;Aku : Oh ya?&lt;br /&gt;Vie: Ya, ma papa dy suruh nginep di rumahku, soale besok msh da pemeriksaan lagi.&lt;br /&gt;Aku : Lha, dy napa?&lt;br /&gt;Vie: Ga pa2 kok mbak, Cuma mastiin keadaanya buat menjalani terapi&lt;br /&gt;Aku : Wew&lt;br /&gt;Ternyata Rahmat pun OL, maka aku chat ma dua remaja itu. Mereka mengerjai aku dengan bertukar ID sehingga aku bingung bicara ma siapa. Rasanya gemes sekali aku sama mereka, awas kalau ketemu...kapan ya, gak sabar rasanya..&lt;br /&gt;Vie: Mbak, vi capek. Vi istrirahat dlu ya&lt;br /&gt;Aku : Ya vi, met istirahat&lt;br /&gt;Vie: Askum&lt;br /&gt;Aku : Wa’alaikumsalam&lt;br /&gt;Obrolan aku dengan Rahmat berlanjut beberapa saat sampai Rahmat pamit karena ngantuk. &lt;br /&gt;Rahmat: Vi dah tidur mbak, aq jg dah ngntuk. Af1 ga bisa nemenin sampe mlm. &lt;br /&gt;Aku : Ga pa pa mat.&lt;br /&gt;Rahmat: Asslm&lt;br /&gt;Aku : wa’alaikunsalam&lt;br /&gt;Dan dia sign out&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam 22.30 ada sms dari Rahmat&lt;br /&gt;Mbak, mohon doanya, kondisi vi kritis. Terjadi pembengkakan di pembuluh darah otaknya. Dy koma skrg. &lt;br /&gt;Aku membalasnya&lt;br /&gt;Astaghfirullah mat, sangat parah kah?&lt;br /&gt;Tak ada balasan dari Rahmat, mungkin pikirannya sekarang sedang kalut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam 05.00, ada sms dari Rahmat lagi. Firasatku makin ga enak&lt;br /&gt;Mbak, doain vi mbak. Hari ini vi mau dibawa ke Solo. Kndisinya mkin kritis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam 20.00 lagi-lagi da sms dari Rahmat&lt;br /&gt;Mbak, af1 aq ga bisa nepatin jnji buat nemuin mbak ma vi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kaget ga percaya dengan sms yang aku baca. Tanpa fikir panjang aku pencet call ke nomor Rahmat&lt;br /&gt;“Mbak...vi mbak...” hanya itu yang keluar dari bibir Rahmat &lt;br /&gt;“Innalillahi wa innallaihi raji’un...tabah ya Mat!” kataku memberi semangat kepada Rahmat, padahal sebenarnya aku sendiri merasakan tulang-tulangku sudah tidak mampu lagi menopang tubuhku.&lt;br /&gt;“Mbak, maafin Vi kalo Vi da salah...”&lt;br /&gt;“Ya  Mat.”&lt;br /&gt;“Doain vi tenang di alam sana, dan diberi jalan yang lapang oleh Allah..”&lt;br /&gt;“Amien...”&lt;br /&gt;Subhanallah, begitu tenang kepergiannya. Begitu ringan pamitannya. Pamit istirahat pada chatnya yang terakhit adalah pamit istirahatnya yang terakhir dan untuk selamanya.&lt;br /&gt;Ya Allah, terimalah Vi di samping-Mu. Berilah kehidupan yang terang dan lapang di alam kekal-Mu.&lt;br /&gt;Ya Allah lindungilah Vi di alam kekal-Mu dan Rahmat di dunia ini. Mereka adalah guru-guru kecilku, yang mengajarkanku betapa berartinya hidup ini, yang mengajarkanku bahwa maut bukan suatu ancaman yang harus kita takuti, bahwa masih banyak orang yang lebih malang dari kita, sehingga kita harus banyak bersyukur pada Allah dan bahwa aku harus kuat menghadapi segala cobaan hidup.&lt;br /&gt;Amien&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5353099398808708399-298644543035881492?l=kumpkis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpkis.blogspot.com/feeds/298644543035881492/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpkis.blogspot.com/2009/04/guru-guru-kecilku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5353099398808708399/posts/default/298644543035881492'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5353099398808708399/posts/default/298644543035881492'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpkis.blogspot.com/2009/04/guru-guru-kecilku.html' title='GURU-GURU KECILKU'/><author><name>onyel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10894577879528821306</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/-OoMkJXiA8w4/TdkggQ5yQrI/AAAAAAAAAX4/Y8MHmB5sHMY/s1600/ca.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5353099398808708399.post-4357752605411838197</id><published>2009-02-12T18:27:00.000-08:00</published><updated>2009-05-28T22:21:48.103-07:00</updated><title type='text'>KUMPULAN KISAH SEPERTI APAKAH INI</title><content type='html'>Ini adalah kumpulan kisah dimana kisah kisah didalamnya bisa berupa kisah yang terjadi secara nyata yang ditulis secara polos apa adanya, berupa kisah yg terinspirasi dari kisah nyata kemudian dikembangkan, maupun hanya sekedar fiksi. Nama yang onyel ambil juga acak, kalo ada yang kebetulan mempunyai nama yang sama huallahualam.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang mana yang nyata, yang mana fiksi hanya penulis dan Allah yang tahu. Namun harapan onyel kisah-kisah yang onyel sajikan mengandung banyak hikmah yang bisa diambil, banyak pelajaran dan sekaligus hiburan..&lt;br /&gt;Terima kasih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(mohon saran dan kritiknya)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5353099398808708399-4357752605411838197?l=kumpkis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpkis.blogspot.com/feeds/4357752605411838197/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpkis.blogspot.com/2009/02/di-bawah-sinar-bulan-purnama-ponorogo.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5353099398808708399/posts/default/4357752605411838197'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5353099398808708399/posts/default/4357752605411838197'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpkis.blogspot.com/2009/02/di-bawah-sinar-bulan-purnama-ponorogo.html' title='KUMPULAN KISAH SEPERTI APAKAH INI'/><author><name>onyel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10894577879528821306</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/-OoMkJXiA8w4/TdkggQ5yQrI/AAAAAAAAAX4/Y8MHmB5sHMY/s1600/ca.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
