Selasa, 03 November 2009

AKHIRNYA AKU MENIKAH DENGAN LAKI-LAKI PILIHAN ORTUKU

+ “Assalamu’alaikum ya ukhti…..” Sapa sebuah ID di YM ku.
- “Wa’alaikumussalam ya akhi.”
+ “Lagi ngapa ukh?”
- “Nyantai saja nieh, kalo tidak santai mana mungkin OL
+ ‘Hehe, na’am.”
- Sedang sibuk apa sekarang akh?
+ “Ini sedang sibuk mengerjakan thesis. Mohon doanya ukh ana bisa segera menyelesaikannya, agar saya bisa segera datang menemui ortu ukhti untuk meminang ukhti.”
- “Amin akh, selalu.”
Wajahku merah marun, malu bercampur bahagia mendapat pesan dari laki-laki yang hampir satu tahun ini senantiasa menemaniku mengobrol di YM di waktu-waktu kosongnya itu. Laki-laki idaman muslimah. Ainur, Laki-laki yang ah, begitu aku kagumi dan aku dambakan sebagai pendamping hidupku. Pemuda Indonesia yang sedang menimba ilmu di Sebuah Universitas di Mesir.

Kami mengobrol banyak, mengenai tradisi dua Negara, Indonesia dan Mesir di mana dia sekarang sedang menimba ilmu lalu mengenai agama dan lain-lain. Kami sebenarnya tidak selalu sependapat dalam menilai setiap masalah. Kadang aku merasa kurang suka dengan cara pandangnya. Namun aku pikir manusiawi sekali pikirannya dan no body perfect. Kami saling mengisi dan berbagi.
Kami hampir tidak pernah bertemu karena sekarang untuk bertemu tentu tak mungkin. Aku di Indonesia dan dia di sebuah Negara yang nun jauh di sana. Kami berkomunikasi via internet, Yahoo Messenger (YM) friendster maupun facebook, atau telpon. Dalam berkomunikasi via YM kami kadang pakai voice dan webcam.

Ahsan, laki-laki itu sering main ke rumahku. Dan seperti biasa, ayah dan ibu yang menghadapi. Alasan dia main ke rumahku pun katanya bukan mencariku, tapi sowan ke ayah dan ibu. Namun aku tau, tujuan utamanya adalah aku. Dulu kami pernah dekat, namun aku merasakan ada ketidakcocokan dengannya, sehingga aku menjauh. Namun dia tetap mengejarku dengan mendekati ortuku. Kedua ortuku senang sekali padanya, berkali-kali memujinya dan terang-terangan mengatakan padaku bahwa dia ingin laki-laki itu menjadi menantunya. Dan satu-satunya putri orang tuaku yang belum menikah adalah aku, sehingga itu berarti orang tuaku menginginkan aku menikah dengannya.
Ahsan Seorang mahasiswa S2 yang sedang mengerjakan Thesis, yang juga baru-baru ini diangkat menjadi dosen di sebuah Universitas Negeri di Jawa Timur. Bapak laki-laki itu ternyata sahabat lama ayahku juga. Dan kedua keluarga kami ternyata sudah saling mengenal. Usia laki-laki itu 6 tahun di atasku.
“Ayah kemarin ngobrol-ngobrol ma orang tuanya Ahsan. Kami membicarakan tentang hubungan kalian, ke mana arah hubungan kalian. Kami berharap akan berbesanan secepatnya.”
“Tapi ayah, kan dah aku bilang. Aku gak suka Ahsan. Ayah, aku dah punya pilihan lain.”
“Siapa? Anak Mesir itu?”
Ya, ayah pernah aku ceritakan tentang Ainur. Dan memang dulu Ainur pernah telepon rumah dan mengobrol dengan ayah dan ibu.
“Ya ayah. Kami dah saling berkomitmen untuk membina sebuah rumah tangga kelak.”
“Apa yang kamu cari dari dia?”
“Dia seorang hafidz ayah, kuliah s-2 di Mesir, aku dah cerita kan? Agamanya bagus.”
“Ya, seorang hafidz. Kalo kamu mencari hafidz, yang belajar di Indonesia banyak. Kamu tau temboro kan? Daerah di mana banyak diproduksi hafidz-hafidzah? Dan alumni-alumninya kebanyakan hidupnya hanya mengembara dari satu masjid ke masjid lain. Mereka dengan alasan jihad menyebarkan agama Islam, gak bisa hidup tetap, selalu berpindah-pindah. Kamu pengin hidup seperti itu kelak?”
“Ayah… mereka ga seburuk yang ayah lihat. Lagipula Ainur pasti tidak akan membiarkan saya terlantar, dia akan membimbing saya, membawa saya dalam kebaikan.”
“Kamu mau menjaminnya? Ingat nduk. Manusia hidup di dunia dan membina sebuah rumah tangga tidak hanya bermodal cinta dan nekad. Manusia perlu pekerjaan untuk menghidupi keluarganya, cinta ga akan memberi makan nduk. Ayah tidak materialistis, ayah tidak mengharuskan menantu ayah itu orang kaya, tapi setidaknya dia punya pegangan untuk menghidupi anak cucu ayah.”
“Dia di sana juga bekerja ayah, dia menuntut ilmu sambil berdagang seperti apa yang dilakukan Rasulullah.”
“Itu di sana kan, bukan di Indonesia. Apa pekerjaannya di Indonesia? Ayah berharap kelak kamu hidup tidak jauh dari keluarga, apa dia sanggup hidup di sini?”
“InsyaAllah dia bersedia ayah.”
“Terus jaminan untuk kehidupan kalian? Apa kerja dia?”
Aku diam tak bisa menjawab. Yah, untuk jaminan masa depan memang belum ada, tapi ainur berjanji dia akan giat bekerja kelak dan akan membahagiakanku.
“Dengar nduk, orang tua tak akan membiarkan anak-anaknya menderita kelak. Anak adalah titipan Allah, kelak di hari akhir orang tua akan mempertanggungjawabkan atas amanat yang diberikan padanya. Karena itu ayah dan ibu ingin yang terbaik untukmu. Kamu mau ayah dan ibu kelak tidak tenang di alam sana karena telah membiarkan anaknya terlantar? Kamu tentu ingin membuat orang tua bahagia dan bangga mempunyai anak seperti kamu kan?”
Lagi-lagi aku ga bisa membantah kata-kata ayah. Ayah, dengan pendidikan S-2 nya dan profesinya sebagai kepala sekolah tentu setiap kata-kata ayah mempunyai dasar. Ayah juga sering mengisi kajian di masjid atau suatu acara, sehingga soal pengetahuannya tentang agama tak perlu diragukan lagi.
Tapi aku merasa ayah kurang tepat dalam memaknai amanat itu. Apa yang dilakukan ayah pada anak-anaknya lebih bersifat mendikte. Masalah jodoh, rejeki semua harus sesuai dengan keinginan ayah dan juga ibu. Soal pendidikan S-2 yang aku jalani inipun semua ayah yang menginginkan. Padahal aku penginnya begitu selesai S-1 aku kerja dulu, yah seperti pendidikanku, tentu saja profesi yang cocok untukku adalah guru. Seteleh mempunyai pengalaman mengajar aku akan melanjutkan studyku. Atau mungkin jodoh yang datang duluan, akan aku jalani. Ah, sebenarnya bukan itu saja. Aku merasa selama ini aku bukan diriku sendiri, hidupku lebih banyak disetir ayah.
Jum’at itu aku dan ainur janjian ngobrol di YM pakai voice, itu berarti aku harus pake PC, ga bisa pakai hp seperti biasa. Yah, kan kalo jum’at kuliah ainur libur, jadi ainur bisa keluar dari asramanya.
“Kaifa Khaluk ukh?”
“Bikhair alhamdulillah akh…wa antum?”
“Alhamdulillah. Biasalah Ana sedang sibuk mengerjakan thesis. Kemarin ana habis bimbingan, alhamdulillah ga da banyak kritik dari ustadz ana. Ana sudah tak sabar pulang ke Indonesia untung mengkhitbah ukhti.”
“Akh, sebaiknya antum lupakan ana!”
“Maksud anti?”
“Ya antum lupakan saja ana, terlalu banyak halangan hubungan kita. Restu orang tua ana sampe sekarang belum ada. Bahkan ana diminta buat menerima khitbahan ahsan.”
Yah, aku pernah menceritakan tentang reaksi orang tuaku yang tidak merestui hubungan kami. Aku sudah berusaha membujuk ayah dan ibu, namun hasilnya nihil. Aku terlalu lemah untuk melawan mereka.
“Baiklah ukh, ijinkan ana berbicara langsung dengan abah ukhti, biarkan ana mengutarakan niat tulus ana terhadap ukhti.”
“Percuma akh, ayah terlalu keras kepala.”
“Biarkan ana mencoba ukh.”
“Tafadhol akh, ana sudah pasrah…”

Sore itu aku terbangun dengan suara ayah yang sedang marah-marah sambil telepon dengan hp nya.
“Dengar ya nak…anda sudah mengusik ketenangan keluarga saya. Apa yang akan anda berikan kepada putri saya?
Cinta, apa itu cinta. Apa kamu akan memberi makan anak saya dengan cinta?
Sebaiknya anda lupakan anak saya, anak saya akan saya jodohkan dengan laki-laki lain yang sudah jelas akan dapat membahagiakan dia.”
Suara ayah kadang pelan namun tajam, kadang keras seperti orang marah. Hatiku menebak, ini pasti telepon dari ainur. Ayah kelihatan sangat jengkel dan terakhir ayah menutup hp nya.

Ketika mendapati aku, ayah menatapku kurang suka.
“Kamu jangan berhubungan lagi dengan laki-laki itu. Ayah kurang suka dan ayah tak setuju. Dengarkan itu! Ganti nomor hp mu! Ayah gak pengin melihat kamu berhubungan dengannya lagi, apalagi mendengar suaranya!” hardik ayah keras.
Sekali lagi, ketika kami OL di YM, aku katakana kepada dia untuk melupakanku. Ah, orang tuaku semakin menekanku. Aku harus ganti nomor hp, keluar kalo gak ada keperluan penting tidak boleh, kalau gak begitu suruh nemenin Ahsan. Aku harus sering main ke rumah ahsan. Ah… aku harus menjalaninya walau tersiksa. Depressed!!!!!
Mereka tidak tau kalau selama ini komunikasi ku dengan ainur bukan hanya lewat sms atau telepon, tapi lewat YM juga. Walo tidak boleh keluar jika tidak punya alas an jelas atau ganti nomor, tapi selama aku tetap pegang hp dan GPRS selalu aktif, komunikasi itu takkan bias terputus begitu saja. Tapi aku ingin mengakhiri semua ini. Aku tak berdaya untuk melawan orang tua.
“Ukh, jangan menyerah ukh, tolong. Sabarlah menanti sampai ana pulang ke tanah air.” Bujuk ainur terus.” Anti tau, ana sekarang jadi sakit-sakitan karena memikirkan ini. Ana gak bisa tenang sebelum ana bisa mengkhitbah ukhti. Ana hanya ingin menikah dengan ukhti.”
“Cukup akh, lupakan ana. Semoga antum mendapat wanita yang lebih baik, lebih sholeh dari ana.” Jawabku dengan hati teriris. Aku tidak ingin terhanyut mendengar dia menghiba terus-menerus.
Jujur, aku sebenarnya tidak rela kalau melihat dia dengan wanita lain. Laki-laki itu sudah mengisi hatiku. Jangankan wanita lain, bahkan ketika ainur kenal dan chatting dengan sahabat-sahabatku perempuan pun aku masih was-was dia akan tertarik pada salah satu sahabatku.

Beberapa hari ainur berusaha menghubungi, memohon agar aku bersabar dan terus membujuk orang tuaku tentang hubungan kami. Aku berusaha tidak menjawabnya, aku menyibukkan diriku dengan berbagai kegiatan untuk menghibur diri.

Akhirnya ahsan secara pribadi melamarku. Dan aku menerima. Dalam fikiranku, Seiring berjalannya waktu, mungkin lama-kelamaan akan tumbuh cintaku kepada ahsan dan pelan-pelan aku akan melupakan ainur. Kalau difikir, memang gak ada alasan aku menolak ahsan. Laki-laki itu secara agama juga bagus, walo gak sebagus ainur. Pendidikan bagus, profesi atau pekerjaan yang layak, mampu menjamin masa depanku. Dia mencintaiku, buktinya dia selalu mengalah padaku, dia tidak pernah komplen atas sikapku yang kadang acuh tak acuh padanya. Selang dua minggu orang tuanya datang ke rumahku untuk melamarku kepada orang tuaku. Dan hari itu ditetapkan tanggal pernikahanku.
Seiring berjalannya waktu menuju ke hari yang seharusnya sakral bagiku itu, ternyata apa yang aku duga keliru. Hingga malam menjelang hari pernikahanku, aku masih belum tenang. Bayangan Ainur belum bisa hilang dari otakku dan secuilpun rasa cinta belum aku rasakan untuk Ahsan. Aku justru mengeluh kepada sahabatku, ‘bagaimana mencintai calon suami…?’ Aku tak bisa tidur sama sekali. Aku berharap semua ini hanya mimpi.

Dan hari bersejarah itupun tiba tapi aku rasakan hari itu sangat hambar. Tak ada rasa haru ketika ijab Kabul diucapkan, tak ada rasa bahagia menyusup di dada layaknya pengantin baru. Aku seperti boneka hidup. Aku hanya tersenyum tanpa arti ketika melihat mata sahabatku tempat di mana aku mencurahkan segala perasaanku berkaca-kaca. Entah apa yang ada di hatinya, ikut terenyuh melihat nasibku atau terharu karena sahabat yang selama 4 tahun sering bersamanya itu kini sudah menikah.

Yah, Akhirnya aku bersanding dengan laki-laki pilihan orang tuaku walau hati ini tersiksa. Dalam hatiku hanya berdoa semoga Allah memberiku kekuatan. Aku berharap cinta itu akan datang kepadaku untuk Ahsan, suamiku nanti sehingga aku akan ikhlas menerimanya sebagai bagian dari hidupku. Selamat tinggal Ainur, semoga kamu hanya akan menjadi bagian dari masa laluku. Biarkan kita menjalani hidup sendiri-sendiri karena takdir kita memang tak bersama. Ya Allah, kuatkan hati hamba….

7 komentar:

Dum on 3 November 2009 15.24 mengatakan...

Ahsan. nama yang berarti lebih baik dan paling baik. semoga bisa membawa kebaikan untuk semuanya. amin.

btw, guru saya, Aksin. Hehe.

arifudin on 3 November 2009 19.54 mengatakan...

wah.... bagus banget ceritanya mbak, menggugah hati ;)

ririsnovie on 3 November 2009 20.19 mengatakan...

heemm,...memang ada berjuta cerita tentang cinta,..hoho,..jadi ingat seseorang yang di mesir sono,.

onyel on 6 November 2009 02.53 mengatakan...

@DUm: Amien....
tetangga saya namanya kisun (sisun) wkakakak
@Arifudin: Hm... Makase, onyel sangat bersyukur mempunyai banyak cerita, kejadian2 yang nyata, dan semua itu bisa aku ambil hikmahnya
riris: hamboh kie, memang masalah yang terjadi di sekitarku kok akeh2 tentang cinta yak??? Hm...(thinking)

puthu warock on 29 Desember 2009 10.01 mengatakan...

astagfirulloh bu????hihihihi

The Mex-Mew mengatakan...

Ini kisah nyata apa bukan sih...?

onyel mengatakan...

the mex-mew:
mau tau aja nieh.... rahasia penulis...
yang jelas inspirasinya dari kejadian nyata....
hehehehe

Posting Komentar

 

Followers

Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template Vector by DaPino